You are here: Home Artikel Kumpulan Dhamma

Artikel Buddhist

Artikel Buddhist

Buddhadharma Mewujudkan Perdamaian

 

Buddhadharma Mewujudkan Perdamaian

 


Oleh:  Jo Priastana (Peneliti, Dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda dan Sekolah Tinggi Agama Buddha Sriwijaya)

Disampaikan dalam Sekolah Agama ICRP, Jakarta, Jum’at 31 Juli 2015

Upaya-upaya mewujudkan perdamaian perlu dilakukan dalam rangka menjauhkan penyelesaian masalah dari tindak kekerasan. Agama senantiasa mempelopori tindakan tanpa kekerasan dan membawa misi perdamaian bagi dunia.

Demikian pula dengan agama Buddha yang cinta damai dan menjauhkan tindakan kekerasan. Pendiri agama Buddha, Siddharta Gautama dalam sejarah hidupnya, sejak kanak-kanak telah menolak tindakan kekerasan dan memelopori pembelaaan bagi kehidupan agar segenap makhluk tidak dikenai kekerasn.

Dikisahkan. Pada suatu musim semi, Pangeran Siddharta ketika sedang memperhatikan seorang petani sedang meluku sawahnya menyaksikan seekor burung menukik meluncur turun kemudian mematuk seekor cacing kecil yang lemah dari gumpalan tanah. Setelah menyaksikan kejadian itu, Ia bertanya dalam hati: “Apakah semua makhluk, hidup saling membunuh antar sesamanya?”

Kisah angsa yang terpanah menceritakan bagaimana Siddharta memperjuangkan angsa yang terpanah untuk dapat dibebaskan dari klaim pemburu yang memanahnya. Siddharta memperjuangkan kehidupan angsa yang terpanah meski melalui perdebatan dan sidang para tetua masa itu yang meyakini kebenaran kepemilikan angsa berada pada sang pemburu. Siddharta melakukan pembelaaan dan memenangkan kehidupan sang Angsa.

Pertapa Siddharta dalam upaya mencapai kebuddhaannya pun menyadari bahwa tindakan kekerasan itu hanya mendatangkan kesia-siaan. Ia sempat melakukan asketisme ektrem, namun akhirnya menyadari bahwa tindakannya itu tidak akan menuntunnya menjadi Budsha.

Menolak Kekerasan

Selama 45 tahun, Buddha mengabarkan dharmanya demi mengatasi segenap makhluk yang dibelenggu penderitaan, beliau melakukannya dengan menunjukkan sikap tanpa kekersan dan menumnuhkan saling menghormati dan toleransi. Kepada Upali yang hendak menjadi pengikutnya Sang Buddha memintanya agar ia berpikir matang-matang, dan juga agar selalu tetap menghormati gurunya (M.I. 378-380).

Beliau sama sekali menolak tindakan pemaksaan dan tindakan kekerasan dan membangun budaya tanpa kekerasan di setiap pembabaran dharmanya. “Samana Gotama tidak merusak biji-bijian yang masih dapat tumbuh dan tidak mau merusak tumbuh-tumbuhan. Tidak membunuh makhluk. Samana Gotama menjauhkan diri dari membunuh makhluk. Ia telah membuang alat pemukul dan pedang. Ia tidak melakukan kekerasan karena cinta kasih, kasih sayang, dan kebaikan hatinya kepada semua makhluk”. (Brahmajala Sutta).

Seringkali tindak kekerasan itu terjadi berkaitan dengan kebencian yang dilandasi balas dendam. Tetapi tindakan balas dendam dengan tindakan kekerasan tidaklah selalu manis. Perwujudan rasa benci hanya menghadirkan kepahitan berkepanjangan. “Kebencian tak akan berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi kebendian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satuhukum abadi”. (Dhammpada 5).

Dalam Buddhadharma diingatkan bahwa bukan dengan membalas dendam atau menaklukkan orang lain melalui kekerasan, kemenangan itu akan tercapai, melainkan dengan mengalahkan diri sendiri dalam menyucikan hati dan pikiran dari kebencian, dialah baru disebut penakluk sejati. “Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam seribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri” (Dhammapada 103). “Menaklukkan ribuan orang belum disebut sebagai pemenang. Tapi mampu mengalahkan diri sendiri itulah yang disebut penakluk gemilang.” (Dhammapada 104).

Sang Buddha menolak kekerasan karena kekerasan menjauhkan dari peningkatan kualitas kehidupan spitual manusia. Ajaran agama Buddha menekankan agar setiap manusia dapat memajukan kualitas kehidupan spiritualnya. Dan hal ini  berlaku juga dalam tataran kehidupan sosial dan politik.

Manusia hidup dan tumbuh dalam saling tergantung satu sama lain (hukum kesaling tergantungan pratitya samutpada), dan karenanya dalam tataran sosial-politis tingginya kualitas kehidupan antar Negara akan terlihat bilamana   tidak diberlakukannya kekerasan dalam menyelesaikan segala macam masalah atau konflik yang terjadi.

Buddha mengatakan, politik yang maju dan beradab adalah politik yang: “tanpa membunuh, tanpa melukai, tanpa menjajah, tanpa membuat sedih, dan mengikuti Dhamma atau ajaran kebenaran” (Samyutta Nikaya).

Dalam sejarah sosil politik semasa Sang Buddha, Sang Buddha  selalu tidak membenarkan terjadinya pemakaian kekerasan atau peperangan. Ketika Vidudhaba, putra Raja Pasenadi dari Kosala menyerbu Kapilavasthu dengan empat divisi prajurit, dan ketika ia akan melewati Sang Buddha yang sedang bermeditasi di bawah pohon yang sudah layu, Vidudhaba bertanya kepada Sang Putra Sakya itu:

“Mengapa anda duduk di bawah pohon yang sudah layu ini, sedangkan ada banyak pohon yang tumbuh penuh dengan dedaunan dan banyak cabangnya?” Sang Buddha menjawab: “Naungan rasa persaudaraan lebih mulia daripada naungan rasa permusuhan.”

Begitu pula dengan Ajatasattu. Ketika Raja Ajatasattu, putra Bimbisara dari  Magadha hendak menyerang Vajjis, negara tetangganya, ia meminta saran terlebih dahulu kepada Sang Buddha lewat pendeta Vassakara.

Kemudian Sang Buddha mengingatkannya untuk tidak mengobarkan peperangan, tidak mempergunakan kekerasan, melainkan sebaliknya menjalankan politik tanpa kekerasan yakni dengan menekankan untuk bermusyawarah dan mematuhi semua ketentuan perdamaian yang telah diberlakukan.  (Maha Paninibbana Sutta).

Pelopor Perdamaian

Aspek politik di dalam sejarah perkembangan Buddhadharma di Asia yang sangat fenomenal  diketemukan dalam  raja besar yang bernama Asoka (abad k3 SM). Raja ini menjalankan ajaran tanpa kekerasan dan memelopori perdamaian serta mengusahakan kehidupan rukun antar agama dengan mendirikan piagam toleransi yang bernama piagam Piyadassi.

Asoka (abad 3 SM) seorang penganut Buddha yang mempraktekkan Buddhadharma dan sekaligus mampu  menciptakan suatu negara yang makmur, memelopori sikap tanpa kekerasan serta toleransi kehidupan beragama. Sikap Raja Asoka ini mungkin bisa menjadi cermin atau teladan bagi para penguasa, pemimpin negara dewasa ini dalam menyelesaikan konflik.

Sepanjang abad Milenium ini kita mengenal tokoh-tokoh Engaged Buddhism yang mempromosikan keterlibatan Buddhadharma dalam dunia kontemporer jaman ini dengan berbagai problema sosial politiknya. Mereka semuanya mengetengahkan perjuangan tanpa kekerasan dan memelopori perdamaian.

Ada Thich Nhat Hanh dengan aksi  cinta-nya dalam perang Vietnam di tahun 1970-an, Dalai Lama yang tengah memperjuangkan otonomi Tibet dan kekayaan tradisi spiritual Tibet dengan tanpa kekerasan, dan juga Aung San Su Kyi  dengan kekuatan kesabaran dan perjuangan damainya dalam mewujudkan Myanmar yang demokratik.

Begitu pula dengan spirit toleransi yang diperlihatkan Buddhadhasa di Thailand, serta Ajahn Sulak Sivaraksa yang pro-demokrasi. Ada  Maha Ghosananda di Kamboja, dan Ambedkar yang memperjuangkan penghapusan diskriminasi atas kaum Dallit di India.

Banyak tokoh Buddhis terkemuka lainnya yang merupakan Bodhisattva jaman kini yang mampu menterjemahkan Buddhisme secara kontekstual, adaptif, humanistik serta menyatakan keterlibatan cinta kasihnya dalam lapangan social-politik sebagaimana yang menjadi hakikat dan jiwa Buddhadharma.

Dekade Perdamaian

Baik pula bila kita ingan pesan yang tertuang dalam deklarasi pertemuan 22 orang Guru Buddhis Barat dengan Dalai Lama di bulan Maret 1993 (Ken Jones: 1999), dengan alinea pertama proklamasinya berbunyi:

“1. Tanggung Jawab Kita pertama sebagai Buddhis adalah bekerja menciptakan sebuah bentuk kehidupan yang lebih baik di muka bumi.

2. Mempromosikan Buddhadharma sebagai sebuah agama yang memiliki keterlibatan terhadap toleransi maupun hormat kepada agama lain.

3. Setiap aksi memperjuangkan keterlibatan tersebut hendaknya dipimpin oleh prinsip kebaikan dan kasih sayang, serta perdamaian dan harmoni.”

Perjuangan mewujudkan pedamaian dan kehidupan  dengan tanpa kekerasan dan anti kekerasan itu merupakan ciri khas dari keterlibatan Buddhadharma yang telah diawali Sang Buddha, Raja Asoka maupun sejumlah Bodhisattva masa kini.

Semuanya menunjukkan kekuatan dari cinta-kasih dalam keterlibatannya mewujudkan perdamaian bagi kehidupan sesama. Spirit damai yang dikandung dalam agama Buddha ini kiranya dapat memberikan sumbangannya dalam mewujudkan “Dekade Budaya Perdamaian” yang  dicanangkan PBB, dan sekaligus “Dekade Non-kekerasan terhadap Anak-anak,” untuk menandai dekade pertama millennium abad ini.

Deklarasi PBB tanggal 13 September 1999, mendefinisikan Budaya Perdamaian sebagai “sejumlah nilai, keyakinan, tradisi, perilaku dan gaya hidup. Anak-anak agar sejak dini dilibatkan dalam kegiatan kependidikan yang mentransfer nilai, keyakinan, perilaku dan gaya hidup yang memberdayakan mereka untuk melerai konflik secara damai berdasarkan spirit toleransi, menghargai harkat manusia dan nondiskriminasi”. (Deklarasi PBB 1999).

Budaya damai dan menentang peperangan, dan memajukan politik tanpa kekerasan inilah yang menjadi semangat dan aspirasi semua agama termasuk Buddhadharma sebagaimana yang tercermin dan berpuncak dalam spiritualitas Buddha  dengan pencapaian kesempurnaannya, kesadaran penuhnya yang tercerahkan dan cinta damai. Budaya damai yang bersumber dari spirit dan inti ajaran agama yakni cinta kasih: “Loko Patthambika Metta; hanya cinta kasihlah yang menyelamatkan dunia.”

Toleransi dan Kerukunan

Agama Buddha pernah hidup di Indonesia dan bahkan turut menandai puncak-puncak zaman keemasan kerajaan Nusantara dahulu kala, dan setidaknya turut pula menyerapkan kekayaan batin bangsa Indonesia mengenai kerukunan hidup beragama maupun hidup saling toleransi.

Dalam agama Buddha, terdapat prinsip untuk melindungi dan menghormati keyakinan bergama seseorang. Dicontohkan oleh Sang Buddha sendiri,  diantaranya adalah ketika ada seseorang bernama Upali hendak menjadi pengikutnya Sang Buddha memintanya agar ia berpikir matang-matang, dan juga agar selalu tetap menghormati gurunya (M.I. 378-380).

Pedoman dalam masyarakat Buddhis lainnya yang menganjurkan untuk mewujudkan sikap saling toleransi dan saling menghormati serta menjaga kerukunan beragama adalah dekrit Raja Asoka (abad ke 2 SM),

“Janganlah kita menghormati agama kita sendiri dengan mencela agama lain. Sebaliknya agama lain pun hendaknya dihormati atas dasar-sadar tertentu. Dengan berbuat demikian kita membuat agama kita sendiri berkembang, selain menguntungkan kerukunan dalam Prasasti Batu Kalinga No. XXII:pula agama lain. Jika kita berbuat sebaliknya kita akan merugikan agama kita sendiri, di samping merugikan agama lain. Oleh karena itu, barangsiapa menghormati agamanya sendiri dan mencela agama lain, semata-mata terdorong rasa bakti kepada agamanya sendiri, justru ia akan merugikan agamanya sendiri. Karena itu kerukunan dianjurkan dengan pengertian biar semua orang mendengar dan bersedia mendengarkan ajaran yang dianut orang lain.”

Sebuah percakapan yang menarik antara Buddha dan Ananda, tentang pentingnya musyawarah tercatat dalam Maha Parinibbana Sutta.

“Ananda, selama kaum Vajji sering dan rutin mengadakan permusyaratan, mereka dapat diharapkan untuk menjadi makmur dan tidak merosot. Apakah engkau mendengar bahwa kaum Vajji berkumpul dan bubar secara damai dan rukun, dan menangani urusannya dengan rukun?” Demikianlah yang telah saya dengan, Yang Mulia,” “Ananda, selama kaumVajji berkumpul dengan rukun, bubar dengan rukun, dan menangani urusannya dengan rukun, mereka dapat diharapkan menjadi makmur dan tidak merosot.”

Sabda Sang Buddha tersebut merupakan bagian dari wejangannya mengenai syarat-syarat kesejahteraan suatu bangsa yang antara lain meliputi:

1. mengadakan musyawarah secara tetap dan teratur dan dihadiri oleh banyak orang.

2. Perselisihan dan perbedaan pendapat selalu diselesaikan secara sepakat dan damai dalam suatu musyawarah.

3. Selalu memperhatikan dan menghormati orang-orang tua mereka dan selalu mengindahkan kata mereka.

4. Memperhatikan, merawat dan menyokong tempat-tempat ibadah mereka serta tidak lupa ikut melaksanakan ibadah seperti apa yang diharuskannya.

Faktor-faktor yang menghambat kerukunan beragama, antara lain:

1. Sifat fanatisme terhadap pelaksanaan ajaran agama, di atas kewajiban dan kepentingan nasional, yang dapat berakibat suatu konflik sosial keagamaan.

2. Sikap kurang tenggang rasa terhadap pemeluk lain.

3. Cara-cara yang tidak terpuji untuk menarik pemeluk lain atau pemeluk lain mazhab untuk meyakini agama yang dipeluknya.

4. Pengaruh negatif pelaksanaan agama di negara asing yang seringkali tidak sesuai dengan tata cara, kebiasaan, dan adat istiadat bangsa kita yang kadang kala bermotif politik.

MewujudkanPerdamaian

Sejak dahulu kala masyarakat Indonesia telah menganut bermacam-macam agama. Walau kerap kali dikhawatirkan perbedaan agama bisa menjadi tidak terciptanya kerukunan dan perdamaian. tetapi hampir dapat dipastikan bahwa penghayatan agama yang dalam akan menyadarkan semua umat beragama bahwa sesungguhnya semua orang dihadapan Tuhan Yang Maha Esa itu satu dan sama adanya.

Kekayaan batin mengenai kerukunan yang mengejawantah dalam perilaku etis saling toleransi yang telah ada sejak dahulu kala merupakan modal dan warisan tak ternilai para leluhur bagi generasi sekarang yang hidup di jaman globalisasi.

Dalam kekayaan batin dan penghayatan agama yang demikian itu maka sikap rukun yang terjelma itu bukan hanya bersifat semu atau  hanya  sekedar untuk menyembunyikan dan menunda konflik. Sikap rukun juga tidak dapat diatur secara eksternal melalui peraturan-peraturan, tetapi peraturan-peraturan ini harus lahir dari kesadaran nurani dan dengan hati yang tulus.

Bangsa Indonesia telah mengenal prinsip-prinsip kerukunan hidup beragama, warisan kebijaksanaan para leluhur maupun nilai-nilainya yang terkandung dalam Pancasila serta yang ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Kendati begitu, sikap batin yang diharapkan berkembang dalam setiap umat beragama dengan berfungsinya agama sebagai landasan moralitas, etik, spiritual umatnya itu harus pula dilengkapi dalam konteks hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang mengupayakan sikap rukun dan damai.

Karenanya penting pula mengetahui dan mempelajari berbagai pendekatan yang pernah ada atau dilakukan oleh pemerintah di dalam mengupayakan tumbuh dan terselenggarakanya kerukunan beragama dan mewujudkan perdamaian.

Meskipun telah memiliki modal jiwa kerukunan yang telah dimiliki bangsa Indonesia  sejak dahulu kala,  namun mengingat  perkembangan masyarakat Indonesia dan dinamika kehidupan yang terjadi, masalah kerukunan umat seringkali juga menyita cukup banyak perhatian, baik dari kalangan agama maupun negara atau pemerintah.

Dan oleh karenanya selalu menjadi bahan pemikiran untuk menemukan kebijakan-kebijakan yang tepat dalam mendekati masalah kerukunan umat beragama dan mewujudkan perdamaian.

***

 

 

 

 

Artikel Buddhist

Arya Avalokiteshvara dan Mantra Enam Suku Kata

Oleh: Shangpa Rinpoche

1st Published 1999

by Karma Kagyud Buddhist Center

No. 38 Lorong 22 Geylang

Singapore 398695

Terjemahan oleh: AB Setiadji, April 2005


Terpujilah Arya Avalokiteshvara, dengan mendengar namaNya dan melihat perwujudanNya, semua makhluk dibebaskan dari sengsara.

Pengantar

Sebagai hasil dari keterikatan kita dengan “ego diri”, muncullah kemunduran batin  seperti kebanggaan, iri hati, nafsu, ketidakpedulian, kesedihan dan kebencian. Karena pandangan dan emosi yang keliru, para makhluk melakukan tindakan negatif yang mengikat dirinya ke dalam penderitaan di samsara, yaitu putaran kelahiran, menua, sakit dan mati.

Semua Buddha termasuk Buddha Shakyamuni muncul di dunia ini untuk menunjukkan kepada kita jalan untuk melepaskan diri dari penderitaan. Untuk mencapai tujuan Penerangan, seorang praktisi perlu mengembangkan kebijaksanaan dan kualitas Buddha. Pada tahap pengembangan, kita bergantung pada ajaran, berkah, dukungan dan penguatan dari Buddha dan Boddhisattva. Melalui pelaksanaan enam kebijaksanaan (sad paramita), para Makhluk Suci atau Boddhisattva mengumpulkan jasa, kesabaran, kebijaksanaan dan kualitas, yang memungkinkan mereka menolong semua makhluk.

Salah satu dari Boddhisattva yang paling dikenal di Tibet, China, Jepang, Korea dan Asia Tenggara (khususnya Indonesia) adalah Arya Avalokiteshvara. Ia dikenal sebagai Chenrezig bagi orang Tibet atau Kuan Yin Pu Sa bagi orang China.


Kelahiran Ajaib Avalokiteshvara di Tanah Suci Padmavati

Menurut naskah Mani Kabum, di tanah suci Padmawati, ada penguasa dunia bernama Zangpochong. Raja ini menginginkan seorang anak laki-laki. Ia telah membuat banyak persembahan kepada Tri Ratna agar berkenan mengabulkan permohonannya, dan pada setiap persembahan ia mengirim pelayan-pelayan untuk mengumpulkan bunga teratai.

Pada suatu ketika, seorang pelayan menemukan teratai raksasa di danau. Ukuran kelopaknya sebesar sayap burung heriang (semacam elang) dan hampir mekar. Ia segera kembali memberitahu sang Raja. Raja merasa bahwa ini adalah tanda doanya meminta seorang putera akan dikabulkan. Ia kemudian pergi bersama rombongan menteri ke danau tersebut dengan membawa berbagai persembahan. Di sana mereka menemukan sebuah teratai raksasa sedang mekar. Di dalam kelopaknya, ada seorang anak laki-laki berumur sekitar 16 tahun. Tubuhnya putih dan ia memancarkan tanda-tanda fisik kesempurnaan seorang Buddha. Sinar memancar dari tubuhnya. Anak itu berkata “Aku sangat kasihan terhadap semua makhluk yang begitu menderita”.

Raja dan rombongan memberikan banyak persembahan dan penghormatan ke anak itu, dan mengajaknya ke istana. Raja memberinya nama “Yang Lahir dari Teratai” atau “Inti Teratai” karena kelahirannya yang ajaib. Ia juga menanyakan hal ini kepada Buddha Amitabha. Buddha Amitabha memberitahu Raja bahwa anak itu adalah perwujudan dari semua aktivitas para Buddha. Ia juga perwujudan dari hati semua Buddha. Namanya Avalokiteshvara dan ia akan memenuhi tujuan semua makhluk di seluruh penjuru alam.


Misi Avalokiteshvara dan Perwujudan dari Enam Buddha dalam Enam Bentuk makhluk

Pada suatu purnama, Raja membuat persembahan istimewa kepada Tri Ratna dan Avalokiteshvara. Pada saat itu, Avalokiteshvara mengumpulkan kembali misinya. Ia harus membebaskan semua makhluk dari penderitaan. Dengan welas asih, ia memperhatikan para makhluk dalam tiga kekuasaan nafsu keinginan, yang berbentuk dan tidak berbentuk. Ia melihat kemunduran dan penderitaan. Ia melihat bahwa “nafsu mereka seperti air terjun; kebencian mereka seperti api yang berkobar; ketidakpedulian melingkupi mereka seperti awan kegelapan; kebanggan mereka sekokoh gunung; dan keirihatian mereka secepat angin. Rantai dari ego diri mengikat tiap makhluk ke dalam putaran kelahiran dan kematian. Penderitaan yang mereka alami serasa seperti mereka jatuh ke dalam nyala api.”

Sifat welas asih muncul dan air mata menitik dari mata Avalokiteshvara. Ia membuat persembahan dan penghormatan kepada Buddha dari sepuluh penjuru dan berdoa memohon bimbingan bagaimana Ia dapat menolong semua makhluk yang menderita. Para Buddha menjawab serempak, “Jika engkau ingin menolong semua makhluk, engkau harus dimotivasi oleh kebajikan dan welas asih. Jangan bosan dengan tugas ini. Jangan menyerah.” Ia bertanya lagi, “ Bagaimana aku mengembangkan sifat kebajikan dan welas asih?” Buddha Amitabha muncul untuk mengarahkan Avalokiteshvara pada praktek, dan memberinya kekuatan untuk memenuhi misinya. Dengan berkah ini Avalokiteshvara berjanji selanjutnya “dari tiap pori-pori di tubuhku, semoga aku mewujud menjadi Buddha dan Boddhisatva sesuai kebutuhan semua makhluk. Dengan perwujudan tersebut, semoga aku dapat membebaskan semua makhluk hidup tanpa tersisa satupun. Jika aku memiliki kemelekatan, biarlah kepalaku hancur berkeping”. Buddha Amitabha memujinya, “Bagus. Buddha dari sepuluh penjuru dan tiga masa dan Aku telah mengembangkan sikap tercerahkan sama sepertimu. Kami telah membuat janji ini dan memperoleh penerangan. Aku akan menolongmu.” Buddha Amitabha memberkahi aspirasinya dan memberinya kekuatan.

Perwujudan Enam Buddha dalam Enam Bentuk

Avalokitashvara kemudian memancarkan enam cahaya dari tubuhnya menjadi enam bentuk makhluk. Tiap cahaya mewujud menjadi satu Buddha. Enam Buddha adalah:

1.     Buddha Gyajin di alam Dewa untuk menaklukkan kesombongan dari semua dewa dan membebaskan penderitaan mereka;

2.     Buddha Thagzangri di alam setengah dewa untuk menaklukkan iri hati dan membebaskan mereka dari pertikaian dan pertempuran terus menerus;

3.     Buddha Sakyamuni di alam manusia untuk menaklukkan keinginan dan membebaskan dari kelahiran, usia tua, sakit dan kematian;

4.     Buddha Sangye Rabten di alam binatang untuk menaklukkan noda kebodohan, dan membebaskan mereka dari penderitaan diburu, dimangsa dan dianiaya;

5.     Buddha Namkhazod di alam setan kelaparan untuk menaklukkan noda kesengsaraan, dan membebaskan mereka dari penderitaan kelaparan dan kehausan;

6.     Buddha Chokyi Gyalpo di alam neraka untuk menaklukkan noda kebencian, dan membebaskan dari penderitaan panas dan dingin yang luar biasa dan penderitaan lain.

Tak terhitung makhluk yang kemudian terbebaskan.


Manifestasi Avalokiteshvara Bertangan-Seribu dan Bermata-Seribu, dan mantra enam sukukata

Sesudah beberapa waktu, Avalokiteshvara berpikir bahwa ia telah berhasil mengurangi banyak sekali jumlah makhluk yang menderita. Saat ia memperhatikan dengan mata kebijakannya dari Gunung Meru, ia merasa kecewa mendapati bahwa jumlahnya tidak banyak berkurang. Ia memancarkan cahayanya ke enam alam sebanyak tiga kali lagi untuk membebaskan semua makhluk. Ketika ia memeriksa kembali, ia kecewa. Dengan putus asa, ia berpikir, “Sungguh sebagaimana Tathagata telah katakan, alam semesta tak terbatas; begitu juga makhluk hidup pun tak terbatas. Aku telah membebaskan begitu banyak makhluk namun jumlah mereka tidak banyak berkurang. Samsara tiada akhir. Aku harus membebaskan diriku sendiri.”

Dengan pemikiran yang menurun ini, ia melanggar sumpah bodhisattva. Kepalanya pecah menjadi seratus bagian. Dengan penuh penyesalan, ia berseru kepada Buddha Amitabha dan semua Buddha mohon pertolongan, “Hamba telah gagal memenuhi tujuanku dan tujuan makhluk, tolonglah hamba.” Buddha Amitabha muncul, mengumpulkan seratus bagian dari kepala yang pecah, dan merubahnya menjadi sebelas kepala. Beliau memberkati sepuluh kepala dengan perwujudan damai dan satu dengan perwujudan murka dengan tujuan untuk menaklukkan mereka yang tak dapat ditaklukkan dengan cara-cara damai.

Buddha Amitabha lalu memerintahkan, “Tidak ada permulaan untuk samsara. Juga tak ada akhir untuk samsara. Engkau harus menolong semua makhluk sampai mereka terbebaskan.”

Avalokiteshvara memohon, “Jika hamba harus menolong semua mahkluk hingga terbebaskan, bolehkah hamba memiliki seribu tangan, dan seribu mata. Seribu tangan mewujud sebagai seribu penguasa semesta, dan seribu mata mewujud sebagai seribu Buddha”. Buddha Amitabha meluluskan permohonannya dan memberinya seribu tangan dan seribu mata, tiap mata berada di tiap telapak tangan.

Buddha Amitabha lalu memerintahkannya, “Jika engkau ingin membebaskan penderitaan di enam alam, engkau harus mengajarkan Mantra Enam Sukukata “OM MANI PADME HUM” yang akan menghentikan kelahiran kembali dan penderitaan makhluk di enam alam. Tiap sukukata akan menghilangkan penyebab dan kondisi yang mengakibatkan kelahiran kembali di tiap alam terkait. “OM” akan menghilangkan penyebab dan kondisi yang mengakibatkan kelahiran kembali di alam dewa. “MA” akan menghilangkan penyebab dan kondisi yang mengakibatkankelahiran kembali di alam setengah dewa. “NI’ akan menghilangkan penyebab dan kondisi yang mengakibatkan kelahiran kembali di alam manusia. “PAD” akan menghilangkan penyebab dan kondisi yang mengakibatkan kelahiran kembali di alam binatang. “ME” akan menghilangkan penyebab dan kondisi yang mengakibatkan kelahiran kembali di alam setan kelaparan. “HUM” akan menghilangkan penyebab dan kondisi yang mengakibatkan kelahiran kembali di alam neraka. Engkau harus menggunakan, menjaga, mendaraskan dan menyerap mantra ini. Ini akan mengosongkan ke enam alam.”


Kedatangan Avalokiteshvara di Dunia ini

Buddha Amitabha mewujudkan enam suku kata “Om Mani Padme Hum” dalam rupa cahaya, yang muncul di dunia ini ke Gunung Potala. Beliau juga memerintahkan Avalokiteshvara pergi ke sana untuk membebaskan semua makhluk hidup. Menyongsong kedatangan Avalokiteshvara, seluruh dunia dipenuhi dengan tanda-tanda menakjubkan dan cahaya cemerlang, yang melampaui matahari dan bulan.

Pada waktu itu, Buddha Sakyamuni sedang memberikan pengajaran di Gunung Malaya. Salah seorang Bodhisattva mengetahui adanya cahaya cemerlang. Ia bersujud dan bertanya ke Buddha apa yang terjadi. Buddha Sakyamuni menjawab, “Dari sini ke Barat di atas semesta yang tak terbilang, ada suatu tempat bernama Padmawati. Disana, bertahta seorang Buddha yang dikenal sebagai Amitabha, dan ia memiliki seorang Bodhisattva bernama Avalokiteshvara. Bodhisattva ini telah datang ke dunia ini di Gunung Potala dimana ia akan menolong makhluk yang tak terhingga jumlahnya. Ia adalah yang paling sempurna di antara semua Bodhisattva. Ia mewujud dalam seribu Buddha yang meliputi seluruh semesta alam untuk membebaskan semua makhluk.”

Ajaran Mantra Enam Sukukata oleh Buddha Sakyamuni.

Pada suatu kali, Buddha Sakyamuni sedang berdiam di vihara Anathapindika di hutan Jeta dekat Shravasti dengan para muridnya. Ia memperkenalkan bodhisattva yang sangat dihormati ini dan Mantra Enam Sukukata kepada yang hadir di pertemuan. Seorang bodhisattva bernama Sarvanivaranaviskambhim mengajukan permohonan kepada Yang Mulia. Ia bersujud dan berseru, “Untuk manfaat bagi semua makhluk di enam alam, mohon beritahu hamba bagaimana hamba dapat memperoleh Mantra Agung ini yang merupakan kebijakan semua Buddha, yang akan memotong akar dari samsara. Berkenanlah Buddha memberikan hamba ajaran ini. Hamba persembahkan seluruh semesta sebagai Mandala. Terhadap siapa yang mau menulis Mantra Enam Sukukata ini, hamba sediakan darah hamba sebagai tintanya, tulkang hamba sebagai pena, dan kulit hamba sebagai kertasnya. Oh, Buddha Mulia, berkenanlah memberikan hamba pengajaran Mantra Enam Sukukata.”

Buddha Sakyamuni lalu memberikan pengajaran. “Ini adalah mantra yang paling bermanfaat. Bahkan saya membuat aspirasi ini ke hadapan jutaan Buddha dan selanjutnya menerima pengajaran dari Buddha Amitabha.”


Manfaat Mantra Enam Sukukata

Hasil dari Mantra Enam Sukukata tak terukur dan tak dapat dijelaskan sepenuhnya bahkan oleh Buddha dari tiga masa. Beberapa manfaatnya adalah:

1.     Siapa saja yang menyimpan mantra ini, tubuhnya akan  berubah menjadi tubuh vajra, tulangnya akan menjadi reliks Buddha dan pikirannya akan berubah menjdai kebijaksanaan Buddha.

2.     Siapa saja yang mendaraskan mantra bahkan meski hanya sekali saja akan memperoleh kebijaksanaan tak terukur. Ia akan mengembangkan belas kasih dan menyempurnakan enam kebijaksanaan. Ia akan dilahirkan sebagai seorang penguasa semesta. Ia akan mencapai tingkatan Bodhisattva yang tak dapat turun dan akhirnya mencapai Penerangan.

3.     Jika mantra ini dipahat di batukarang dan gunung, dan seorang manusia atau bukan manusia datang dan melihat mantra itu, ia akan mengembangkan penyebab untuk menjadi seorang Bodhisattva dalam kehidupan selanjutnya, sehingga membebaskan penderitaannya.

Dikatakan bahwa pasir sungai Gangga dan tetesan air di samudera dapat dihitung tetapi hasil dari pendarasan Mantra Enam Sukukata tak dapat dihitung.

Mantra Enam Sukukata adalah perwujudan ucapan dan enerji kebijaksanaan dari semua Buddha. Ini memurnikan persepsi tidak murni ketika atas suara. Ini juga sarana untuk melindungi pikiran kita dari pemikiran yang menjerumuskan. Ini menghentikan kebodohan seseorang dan membuka kebijaksanaan seseorang. Ini memperbesar berkat yang tak terhingga dan kedamaian yang dapat diperoleh. Ini dapat menyelamatkan dan mengurangi makhluk dari ratusan dan ribuan penderitaan dan kesukaran.

Ini mungkin terdengar tak masuk akal bagi beberpa orang. Bodhisattva, bagaimanapun, telah membuat aspirasi agung dan mengumpulkan hasil, kebijaksanaan, dan sarana mahir yang tak terhitung untuk menolong makhluk. Ia memiliki “kail” untuk membebaskan makhluk. Jika kita memiliki ketulusan dan iman yang dalam padanya dan mencoba upaya dalam praktek Dharma, kita seperti memiliki “suatu cincin yang kuat dan tak akan patah”. Dengan cincin iman kita, Avalokiteshvara akan dapat “memancing” kita keluar dari penderitaan.

Oleh karena itu, kita harus dengan penuh hormat mengingat Avalokiteshvara, dan mendaraskan Mantra Enam Sukukata. Semua kebutuhan duniawi dan rohani kita akan dipenuhi.


Avalokiteshvara di Tibet

Pada suatu waktu, Lha Thothori Nyentsen, seorang Raja Tibet, bertahta di Istana Yumbu Lagang. Sebuah peti jatuh dari langit menimpa atap istana. Peti dibuka dan berisi Sutra Tatacara Penolakan dan Pengabulan (spang-skong phyag-brgya-pa’imdo), suatu papan hias diukir dengan Dharani Permata Pengabul Harapan (Cintamanidharani), Sutra Kornukopia Sifat Avalokiteshvara (Aryakaranda Sutra), Mantra Enam Sukukata, dan sebuah stupa emas. Sang Raja tidak tahu apakah itu, tetapi mengerti bahwa itu sangat berharga. Sang Raja telah bermimpi bahwa arti dari benda berharga itu baru akan diketahui sesudah lima generasi.

Penguasa kelima sesudah Lha Thothori adalah Raja Songtsen Gampo. Ia menikah dengan Brikuti putri dari kerajaan Nepal dan Wen Cheng putri kerajaan China Tang. Masing-masing membawa sebuah patung Buddha Sakyamuni ke Tibet dan memperkenalkan budaya Buddhis ke negeri itu. Sang Raja merasa pentingnya memberikan ajaran Buddha kepada rakyatnya. Ia mengirim Thonmi Sambhota ke India untuk mempelajari tatabahasa dan menulis. Thonmi Sambhota kelak menciptakan huruf dan tatabahasa Tibet berdasar bahasa Sanskrit. Naskah Buddhis pertama yang diterjemahkan dari Sanskrit ke bahasa Tibet adalah Sutra dan tantra Duapuluh-Satu dari Avalokiteshvara. Selanjutnya, banyak ajaran penting Buddha yang diterjemahkan.

Sang Raja dan rakyatnya menyatu dalam praktek Avalokiteshvara.Naskah-naskah pengajaran dikumpulkan dan disembunyikan di kasanah terpisah. Guru yang telah tercerahkan Ngodrup, Lord Nyang dan guru Shakya-O kelak menemukan peninggalan tersebut. Peninggalan tersebut dikenal sebagai Kumpulan Karya Sang Raja berkenaan dengan Mantra “Om Mani Padme Hum” (mani bka-bum).

Banyak guru besar masa lampau dan sekarang di Tibet menyebarkan ajaran Avalokiteshvara kepada pengikut mereka. Ada banyak sadhana (latihan) yang disusun oleh guru besar yang secara pribadi menerima pengajaran dari Dewa sebagai hasil latihan mereka. Banyak praktisi Tibet mengikuti metode latihan tersebut untuk mencapai tingkat Avalokiteshvara dan membebaskan diri mereka dari penderitaan Samsara. Mereka juga membimbing yang lain dalam jalur yang sempurna ini.

Banyak pertapaan pria dan pertapaan wanita juga mengadakan retret pemurnian tahunan (Nyungne), Pendarasan Agung atas Mantra bagi rahib dan awam. Para Guru juga mendorong pencetakan Mantra Enam Sukukata pada roda doa dan sebagainya untuk mendapatkan hasil. Orang Tibet percaya bahwa semua tindakan itu akan mendukung mereka dalam kemajuan di jalur spiritual mereka. Mereka percaya Avalokiteshvara adalah penyelamat dan pelindung mereka, sementara Raja Songtsen Gampo adalah perwujudan Avalokiteshvara, dan dua pribadi ini adalah perwujudan dua Tara.
====
OM MANI PADME HUM Ke enam karakter ini secara bersama membentuk enam karakter Mantra Maha terang yang mana setiap orang dapat memancarkan cahaya terang.
OM adalah karakter pertama dari mantra ini. Ketika kamu mengucapkan OM (Nan) sekali saja maka semua hantu-hantu, makhluk-makhluk halus dan lain sebagainya harus merangkapkan kedua tangannya. Mengapa? Ini adalah untuk mematuhi peraturan dan tata cara alam semesta. Sejalan dengan tata cara tersebut mereka mengikut jalan yang benar. Sekali saja karakter (sumber kata) ini telah diucapkan maka para hantu-hantu, makhluk halus dan lain sebagainya tidak berani bertikai dan menciptakan masalah yang mengacaukan dan sebaliknya mereka saling menghormati satu sama lain.
MANI adalah suara yang pertama dalam mantra ini yang berarti "Kebijaksanaan Hening", Dengan menggunakan kebijaksanaan seseorang dapat mengerti semua hukum-hukum dan juga dapat memisahkan dari noda-noda yakni noda-noda kekotoran bathin dan kesukaran yang dapat dipertimbangkan sama dengan "Seperti Permata yang Engkau Kehendaki yang benar-benar suci dan murni. Jika engkau benar-benar murni "Seperti Permata Yang Engkau Kehendaki" segala sesuatu dapat terwujud/terlaksana. Ini juga dapat mengabulkan keinginan/harapanmu sesuai dengan yang engkau pikirkan (kehendaki). Segala cita-citamu akan terpenuhi. Ini adalah manfaatnya.
PADME ini dapat diartikan "Cahaya yang Sempurna menyinari dan juga dapat diartikan sebagai Teratai Yang sedang terbuka (Mekar)". Ini juga dianalogikan sebagai Bunga Teratai Yang Indah yang dapat menyempurnakan dengan sempurna mengabulkan tanpa rintangan. Ini adalah Pikiran yang menakjubkan dari Avalokitesvara Bodhisattva.
HUM Kata HUM ini dapat diartikan "Meletakkan dasar" Segala sesuatu daat dilakukan oleh karakter ini "HUM" yang juga berarti "Melindungi dan mendukung". Sekali karakter (suku kata) ini terucap maka semua Pelindung Dharma dan malaikat berbudi datang melindungi dan mendukungmu. Ini juga berarti "Mengikis bencana". Begitu karakter ini telah diucapkan dan maka segala kesulitan akan teratasi dan musnah. Juga dapat dimaksudkan "Sukses" dalam segala hal yang engkau kerjakan dapat tercapai.
Bagi yang melafalkan 6 karakter mantra Maha Terang (OM MANI PADME HUM) akan selalu dilindungi dan didukung oleh tak terhingga Para Buddha, Bodhisattva maupun Pelindung Dharma Vajra. Pada saat Bodhisattva Avalokitesvara selesai mengucapkan 6 karakter mantra Maha Terang ini sungguh tak dapat dibayangkan, respon yang menakjubkan maupun cara kerjanya yang tidak dapat dibayangkan pula. maka dari itu dapat dikatakan juga sebagai Ajaran Rahasia. Jika seseorang mencoba menjelaskannya secara mendetail, maka maknanya adalah tak terkirakan dan tak terbatas yang tidak pernah selesai untuk dibicarakan. Keenam karakter kata sejati ini dikenal juga sebagai enam karakter mantra Maha Terang yang merupakan hasil (pikiran) yang mendalam, indah, luar biasa, asli dari Bodhisattva Avalokitesvara yang mana pahala dan kebajikannya adalah sungguh tak terhingga, tak terbatas dan tak dapat dibayangkan pula.
   

Artikel Buddhist

Dua Puluh Sembilan Manussa Buddha


Berikut ini adalah list nama-nama Buddha. Buddha tidak bisa muncul secara bersamaan.

Setiap ajaran Buddha sudah musnah karena tidak ada yang menjalankan lagi, maka akan muncul Buddha baru.

Kalau ajaran Buddha masih ada, tidak mungkin muncul Buddha lagi.

 

 

 

No
Nama Buddha
Sifat Utama
1
Tanhankara
Maha Perwira
2
Medankara
Maha Mulia
3
Saranankara
Maha Welas-asih
4
Dipankara
Cahaya Cemerlang
5
Kondanna
Junjungan Manusia
6
Mangala
Yang Maha Agung
7
Sumana
Pemberani Yang Berbudi Lemah Lembut
8
Revata
Penambah Kegembiraan, Kebahagiaan
9
Sobhita
Yang Penuh Kebajikan
10
Anomadassi
Manusia Utama
11
Paduma
Obor Semesta Alam
12 Narada Pembimbing Yang Tiada Taranya
13 Padumuttara Makhluk Yang Tiada Taranya
14 Sumedha Yang Paling Mulia
15 Sujata Pimpinan Jagad Raya
16 Piyadassi Maha Junjungan Umat Manusia
17 Atthadassi Yang Penuh Kasih-sayang
18 Dhammadassi Penghalau Kegelapan
19 Siddhatta Yang Tiada bandingnya Didunia
20 Tissa Pemberi Karunia Yang Utama
21 Phussa Yang Sempurna Ke Tujuan Akhir
22 Vipassi Yang Tiada Saingannya
23 Sikhi Pahlawan Cinta-kasih Tanpa Batas
24 Vessabhu Penyebar Kebahagiaan Sejati
25 Kakusandha (Krakucchanda) Penunjuk Jalan Para Musafir
26 Konagamana (Kanakamuni) Yang Berusaha Tanpa Akhir
27 Kassapa (Kasyapa) Cahaya Sempurna
28 Gotama (Gautama) Kejayaan dalam Keluarga Gotama (Gautama)
29
Matteya (Maitreya)
Yang Penuh Dengan Cinta-kasih
   

Artikel Buddhist

Ilmu Pengetahuan Dan Dharma

Sejak roda Dharma diputar untuk pertama kalinya di Taman Isipattana dekat Benares oleh Sang Buddha kira-kira 2500 tahun yang lalu hingga sekarang ajaran mulia tersebut masih relevan dengan kehidupan umat manusia modren. Dalam beberapa agama yang lain, barangkali terdapat bagian-bagian yang tidak relevan dan tidak dapat di terima oleh logika dan perkembangan IPTEK, sehingga perlu diadakan perubahan-perubahan atau penghilangan beberapa bagian ajaran yang dianggap sudah tidak sesuai dengan perikehidupan modren saat ini. Tetapi hal seperti ini tidak terjadi di dalam ajaran Sang Buddha, karena pada dasarnya Dhamma Sang Buddha didasarkan pada kesunyataan yang dapat dibuktikan secara logis dan bahkan juga secara ilmiah. Hal ini juga diakui oleh kalangan ilmuwan, contohnya adalah Albert Enstein yang mengatakan bahwa Buddhisme adalah agama yang tidak bersifat Dogmatis, tetapi berdasarkan pengalaman natural dan spiritual.

"Agama di masa yang akan datang merupakan agama yang kosmik. Agama tersebut akan melampaui konsep Tuhan yang tunggal dan menghindari Dogma dan teologi. Meliputi baik alam (Natural) maupun spiritual, agama tersebut akan di dasarkan pada rasa religius yang timbul dari pengalaman semua hal, baik secara natural maupun spiritual dan dalam kesatuan yang penuh arti. Buddhisme mampu menjawab deskripsi ini. Jika ada agama yang mampu memenuhi kebutuhan ilmiah ini adalah Buddhisme".

Ajaran Sang Buddha memang sangat unik, karena tidak bersifat dogmatis. Hal ini terlihat dari kata-kata Sang Buddha : Ehipasiko, Yang artinya datang dan lihatlah. Di sini dimaksudkan agar kita melihat, mengetahui dan memahami ajaran Sang Buddha sebelum meyakininya. Kita bisa melihat, mengetahui dan memahami hal tersebut. Sang Buddha tidak menginginkan kita untuk mempercayai ajaran-Nya, Karena jika kita mempercayai sesuatu, yang kita belum pernah melihatnya, maka suatu ketika bias muncul keragu-raguan. Dan Sang Buddha mengatakan bahwa keragu-raguan (Vicchikiccha) adalah merupakan salah satu rintangan batin (Nivarana) yang menghambat kemajuan batin seseorang. Jadi tidak seperti ajaran agama lain pada umumnya, yang menuntut kepercayaan dari para pengikutnya tanpa dapat dan boleh bertanya-tanya, maka sebaliknya Sang Buddha bahkan menyuruh kita untuk dapat berpikir menentukan mana yang baik (dapat membawa kebahagian) dan mana yang tidak baik (tidak membawa kebahagiaan).

Jangan bertindak berdasarkan wahyu atau tradisi, jangan bertindak berdasarkan omongan, atau berdasarkan kitab-kitab suci, jangan bertindak berdasarkan kabar burung atau hanya berdasarkan logika, jangan bertindak berdasarkan pemihakan terhadap suatu dugaan atau terhadap penampakan kemampuan seseorang dan jangan bertindak berdasarkan pemikiran’Ia adalah guruku’. Tetapi jika kamu sendiri mengetahui bahwa sesuatu hal tersebut adalah bagus, bahwa hal itu tidak salah, bahwa hal itu dipuji oleh orang bijaksana dan jika di laksanakan dan dihayati membawa kebahagiaan, maka ikutilah hal itu. (Al188)

Ven.K.Sri Dhammananda dan Ven.Sri Dhammika juga mengatakan bahwa Buddhisme adalah terbuka untuk siapa saja. Tidak ada doktrin rahasia. Semua kejadian-kejadian dalam kehidupan ini tidak ada yang tersembunyi atau berbau mistik dan tidak dapat dijelaskan. Jadi sebenarnya mukjijat itu tidak ada. Apa yang dianggap sebagai mukjijat itu hanyalah karena kemampuan dan pengetahuan manusia yang masih sangat terbatas. Jika manusia mampu meningkatkan pengetahuannya melalui peningkatan kebijaksanaan, maka ia akan mengerti sebab musabab terjadinya semua mukjijat, sehingga ide tentang mukjijat haruslah dihapuskan. Contohnya : Berjalan di atas air, Dibbasota (telinga sakti), dibbacakkhu (mata sakti), mengubah-ubah bentuk jasmani, menghilang, terbang dan lain-lain, semuanya bukanlah mukjijat. Itu hanyalah kekuatan batin (Abihinna) yang dimiliki oleh seseorang yang telah mencapai tingkat meditasi Samatha Bhavana yang tinggi.

Buddhisme juga tidak mengenal teori penciptaan dunia dan kepercayaan bahwa semua penderitaan maupun kegembiraan yang dialami manusia adalah berasal dari Tuhan. Jika manusia mengalami penderitaan, maka dikatakan bahwa Tuhan sedang memberikan cobaan. Tetapi jika manusia mengalami kegembiraan, maka dikatakan Tuhan memberikan berkah kepadanya. Pendapat seperti ini jelas sangat meragukan dan bias menimbulkan tanda Tanya yang besar. Jika Tuhan, sebagai Zat yang Maha Kuasa dan Maha Adil, mengatur nasib manusia, juga Tuhan itu sangat mencintai manusia, mengapa Tuhan harus memberikan penderitaan yang hebat terhadap sebagian manusia dan sebaliknya memberikan kegembiraan dan rejeki yang berlimpah pada manusia lainnya? Padahal banyak diantara orang-orang yang mengalami penderitaan tersebut adalah orang-orang yang saleh, dan sebagian orang-orang yang hidup dalam kemewahan adalah orang yang tamak dan miskin cinta kasih. Konsep tentang Tuhan sebagai sentral yang mengatur kehidupan manusia yang jelas bias menimbulkan rasa tidak puas manusia yang selalu hidup dalam penderitaan, sebaliknya menimbulkan kepongahan bagi manusia yang hidupnya selalu dalam kemudahan-kemudahan karena merasa Tuhan mencintainya lebih dari orang lain. Lagipula, mengapa Tuhan sebagai Zat yang Maha Kuasa dan Maha Tahu harus menurunkan berbagai macam agama

yang saling bertentangan, yang akhirnya sering kali menimbulkan peperangan dan pertumpahan darah Semua pernyataan ini tidak akan terjawab melalui logika. Sebaliknya Buddhisme mengajarkan epada kita bahwa kebahagiaan dan penderitaan adalah hasil dari perbuatan kita sendiri. Itu adalah buah dari karma yang dilakukan oleh orang yang bersangkutan. Hal ini dengan jelas dikatakan oleh Sang Buddha, bahwa hanya diri kita sendirilah yang dapat menyelamatkan diri kita sendiri. Manusia tidak bisa mengharapkan pertolongan dari orang lain untuk menyelamatkan dan menyucikan dirinya. Juru selamat bagi dirinya sendiri tak lain tak bukan adalah diri kita sendiri pula. Sang Buddha hanyalah sebagai Guru penunjuk jalan. Bagaimanakah manusia dapat menyelamatkan dirinya sendiri? Dengan selalu melaksanakan ajaran Sang Buddha, yaitu : jangan berbuat jahat; perbanyaklah kebajikan; sucikan hati dan pikiran.

Konsep Buddhisme yang mengandalkan diri sendiri sebagai juru selamat bagi diri sendiri, secara logika dan ilmiah dapat dibuktikan. Hal ini bukannya berarti Buddhisme tidak mengenal Tuhan. Sebenarnya dalam Buddhisme juga mengenal adanya "Sesuatu yang mutlak, yang tidak dilahirkan, tidak dijadikan, tidak berbentuk dan tidak terbatas, sebagai tempat pelarian bagi apa yang dilahirkan, dijadikan, berbentuk dan terbatas" (UD 80). Konsep sesuatu yang adi inilah yang diakui dalam Buddhisme sebagai Tuhan yang Maha Esa dan hal ini tampak dari penghormatan kita terhadap Sanghyang Adi Buddha, yang artinya : Kesempurnaan Yang Paling Tinggi Dan Mulia.

Ditinjau dari sudut ilmiah, sebenarnya ajaran Sang Buddha, walaupun tidak seluruhnya dapat dibuktikan secara ilmiah, tetapi dalam banyak hal ajaran Beliau dapat dikatakan bersifat ilmiah, sebab dapat dibuktikan atau ditelusuri kebenarannya. Contoh ajaran Sang Buddha yang dapat dibuktikan secara nyata dengan fakta-fakta yang ada adalah tentang Empat Kebenaran Mulia, PaticcaSamuppada, hukum karma dan Tilakkhana. Bahkan teori tentang evolusi dunia dalam Aganna Sutta (dalam Sutta Pitaka Digha Nikaya) dan tentang adanya banyak tata surya lain di alam semesta ini telah dikemukakan oleh Sang Buddha dalam Ananda Sutta (dalam Anguttara Nikaya) dan dalam Maha Prajnaparamita Sutra, hampir 25 abad sebelum munculnya teori evolusi modren. Hal ini menunjukkan bahwa memang Sang Buddha benar-benar telah mencapai pengetahuan sempurna yang tiada bandingnya, sebagai manusia paling bijaksana yang pernah terlahir di dunia.

Dalam perkembangan ilmu dan teknologi sekarang ini, banyak timbul pertentangan (dalam agama/ajaran lain) mengenai apakah suatu perkembangan ilmu pengetahuan tertentu sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak, apakah diridhoi/direstui oleh Tuhan atau tidak. Sebenarnya masalah ini agak mengherankan jika dikaitkan dengan Tuhan, karena jika Tuhan tidak menyetujui, sebagai kekuatan supranatural yang luar biasa (Maha Kuasa) Tuhan pasti bisa menggagalkan usaha-usaha tersebut. Sehingga perkembangan teknologi yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya tidak akan pernah bisa terwujud. Misalnya mengenai bayi tabung, Inseminasi buatan, operasi ganti kelamin, perkembangan teknologi senjata-senjata canggih seperti rudal, bom hydrogen dan lain-lain.

Sebagai umat Buddhis, kita tidak pernah mempersoalkan hal-hal tersebut dari sudut pandang apakah sesuai kehendak Tuhan atau tidak, karena kita sadar dan mengetahui dengan pasti bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah akibat dari keadaan yang saling bergantungan (Sankhara) : ‘Dengan adanya ini maka muncullah itu, dan dengan lenyapnya ini maka lenyaplah itu’. Disamping itu manusia mempunyai kemampuan berpikir yang sangat luar biasa jika dapat dikembangkan sebaik-baiknya. Jadi jelas tidak mustahil bagi manusia untuk bisa mengembangkan apapun juga dan hal ini seluruhnya tergantung pada diri manusia sendiri. Hanya saja Sang Buddha dengan jelas mengatakan jika manusia berbuat dengan pikiran jahat, maka pederitaan akan mengikutinya seperti roda pedati yang mengikuti jejak kaki lembu yang menariknya. Sebaliknya, jika manusia berbuat dengan pikiran yang baik, maka kebahagiaan akan mengikutinya seperti bayang-bayang yang tidak pernah lepas dari badannya. Jadi jelas jika manusia berbuat berdasarkan kehendak (Cetana) yang tidak baik maka ia telah membuat karma baru yang buruk (Akusala karma) dan sebagai akibatnya ia akan menerima penderitaan jika karma buruknya berbuah. Demikian pula sebaliknya.

Jadi sebenarnya dalam pandangan Buddhis, tidak ada pembatasan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, sejauh ilmu pengetahuan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Seperti misalnya penemuan serum-serum dan vaksin-vaksin untuk berbagai macam penyakit, bayi tabung dan inseminasi buatan untuk menolong pasangan suami istri yang tidak mampu mempunyai keturunan secara alami, operasi ganti kelamin untuk menolong orang-orang yang mempunyai kelainan seksual sehingga tidak merasa rendah diri, pengembangan teknologi satelit dan ruang angkasa dan sebagainya. Tampak bahwa beberapa perkembangan IPTEK yang kadang-kadang menjadi perdebatan di kalangan agama lain, seperti misalnya program bayi tabung dan operasi ganti kelamin, didalam Buddhisme tidak menjadi masalah. Karena otak (daya pikir) manusia memang luar biasa dan jelas program tersebut bertujuan untuk menolong sesama manusia. Jadi manusia sebagai Sang pencipta haruslah selalu mawas diri dan mengembangkan cinta kasihnya demi kebahagiaan sesama. Janganlah manusia justru menuruti nafsu keinginan rendah, keserakahan dan kebencian yang menginginkan orang lain menderita. Dari konsep ini jelas bahwa Buddhisme tidak akan pernah menghambat kemajuan perkembangan IPTEK, tetapi seharusnya manusia mengembangakan cinta kasih terhadap sesama dengan tidak menciptakan teknologi yang bersifat destruktif tetapi yang bersifat konstruktif.

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan 3 hal sebagai berikut :

  1. Buddhisme adalah ajaran yang bersifat logis, tidak bersifat dogmatis. Buddhisme mengajarkan manusia untuk datang dan melihat kebenaran ajaran tersebut, dan bukannya untuk datang dan percaya,agar timbul keyakinan bagi para pengikutnya, sesuai dengan kata-kata Sang Buddha Ehipassiko. Karena jika kita tidak datang dan melihat sendiri kebenaran suatu ajaran, maka keyakinan tidak akan pernah mantap, akibatnya akan muncul keragu-raguan. Dan keragu-raguan adalah merupakan salah satu rintangan batin (Nivarana) bagi perkembangan kesempurnaan batin kita. Prinsip Ehipassiko ini sesuai dengan metode dan semangat ilmiah yang mengutamakan penalaran dengan kemampuan dan kebijaksanaan sendiri.
  2. Buddhisme dapat dikatakan sebagai agama (religi) yang ilmiah. Jadi disini mencakup unsur spiritual dan logika. Ajaran Sang Buddha tentang 4 Kesunyataan Mulia, Paticcasamuppada, Tilakkhana, Hukum karma semuanya secara ilmiah dapat dibuktikan (dengan pembuktian secara riil/ berdasarkan fakta).
  3. Karena dalam Buddhisme tidak mengajarkan adanya kekuatan supranatural yang luar biasa yang mengatur jalan hidup manusia, tetapi jalan hidup manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri, maka Buddhisme tidak pernah menentang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hanya saja perkembangan IPTEK seharusnya dilandasi oleh rasa cinta kasih (metta) yang bertujuan untuk membahagiakan sesama, bukannya dilandasi oleh keserakahan dan kebencian sehingga mengakibatkan penderitaan.

    Saran bahan rujukan :
    1. Dhammika, Ven.S., Good Question Good Answer, The Buddha Dharma Mandala Society, Singapore.
    2. Rahula, Walpola S., What The Buddha Taught, Gordon Fraser Gallery Ltd., London, 1978.
    3. Dhammananda, K.Sri., Why Buddhism?, Buddhist Vihara, Washinghton.
    4. Aganna Sutta, Sutta Pitaka Digha Nikaya 27.
    5. Ananda Sutta, Anguttara Nikaya (Gradual Sayings) III, 8,80.
    6. Narada, Ven., Sang Buddha dan ajaran-ajaranNya, Bagian I, yayasan Dhammadipa Arama, Jakarta.
    7. Kalupahana, David J., Filsafat Buddha, Erlangga, Jakarta, 1986.
   

Artikel Buddhist

Persembahan Jubah Kaṭhina: Sebuah Renungan

a

oleh Abhidhamma MadeEasy pada 15 November 2012 pukul 10:17 ·



“Para bhikkhu, manfaat dari kehidupan suci bukanlah untuk mendapatkan keuntungan materi, bukan pula untuk mendapatkan penghormatan,…. Para bhikkhu, tujuan dari kehidupan suci adalah pembebasan-batin yang tidak-tergoyahkan. Inilah intisarinya. Inilah tujuannya.” [1]

Pendahuluan

Persembahan jubah Kaṭhina adalah perayaan yang dikenal di tradisi Theravāda yang sangat erat kaitannya dengan latihan disiplin para anggota saṅgha. Hal ini dikarenakan adanya persyaratan-persyaratan yang wajib dipenuhi oleh para anggota saṅgha sebelum mereka berhak mengadakan upacara persembahan jubah Kaṭhina. Kegagalan dalam memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah diatur di dalam Vinaya akan membawa akibat pada ketidaksahan jubah Kaṭhina yang telah dipersembahkan oleh para umat.

Hal ini bukan berarti bahwa kamma-baik yang telah dilakukan oleh para umat yang telah mempersembahkan jubah Kaṭhina dengan dilandasi oleh kasih dan keyakinan terhadap Tiratana kemudian menjadi kamma-buruk. Tetapi, kegagalan memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut akan berdampak kepada anggota saṅgha dimana mereka hanya akan menerima persembahan jubah biasa; bukan jubah Kaṭhina yang bisa membebaskan mereka dari beberapa peraturan Vinaya untuk jangka waktu tertentu.


Penyimpangan Makna Kaṭhina
Seiring dengan berjalannya waktu, upacara persembahan jubah Kaṭhina, tidak terhindarkan, telah bersinggungan dengan budaya-budaya lokal dimana Buddhisme berkembang. Oleh sebab itulah kita sekarang ini bisa melihat berbagai macam upacara persembahan jubah Kaṭhina yang berbeda-beda di setiap Negara; dengan tata cara persembahan yang kemungkinan besar sangat berbeda dengan apa yang sudah menjadi tradisi di masa kehidupan Buddha Gotama. Hal ini dikarenakan kemampuan Buddhisme yang sangat baik dalam beradaptasi dengan budaya lokal; tidak menghancurkan tetapi bahkan menyatu dengannya. Buddhisme melihat budaya lokal hanyalah sebagai kulit atau kemasan dari latihan-latihan spiritualnya. Selama budaya-budaya tersebut tidak merubah isi atau intisari ajaran maka latihan-latihan Buddhis bisa dikemas dengan bungkus budaya dan tradisi lokal apapun.

Akan tetapi, tentu saja, di dalam perkembangannya selalu saja bisa ditemukan penyimpangan-penyimpangan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Penyimpangan ini menjadi satu hal yang serius apabila sudah menyebabkan pergeseran nilai dan makna dasar persembahan jubah Kaṭhina; dari yang pada awalnya adalah merupakan satu rangkaian yang berkaitan erat dengan latihan untuk anggota saṅgha serta demi kelanggengan Dhamma; menjadi sebuah sarana untuk menumbuh suburkan tiga akar yang tidak-baik, yakni lobha, dosa dan moha.

Perayaan persembahan jubah Kaṭhina adalah kegiatan yang murni dari dan diperuntukkan kepada saṅgha. Penyimpangan akan terjadi manakala rangkaian latihan disiplin yang telah diatur di dalam Dhamma dan Vinaya, yang menjadi syarat sahnya Kaṭhina, diabaikan dan kemudian kebijaksanaan dikalahkan oleh lobha, dosa dan moha demi memupuk keuntungan materi. Termasuk di dalam hal ini adalah meyakini sesuatu sebagai kebenaran yang harus dilakukan walaupun tidak sesuai dengan Dhamma dan Vinaya.[2] Pelanggaran dan penyelewengan tersebut biasanya muncul karena satu atau lebih dari sebab-sebab dibawah ini:

1) Alajjhitā: mengerjakan sesuatu dengan tanpa rasa malu. Seseorang mengerti bahwa sesuatu hal yang dikerjakannya adalah pelanggaran, tetapi tetap saja dilakukannya karena tidak adanya rasa malu.

2) Añāṇatā: Dia mengerjakannya karena tidak mengerti (peraturan yang telah ditetapkan oleh Buddha).

3) Kukkucca-pakatatā: Dia mengerjakannya dengan keraguan, penyesalan. Dalam hal ini sebenarnya dia tahu bahwa yang akan dikerjakannya adalah pelanggaran tetapi tetap saja dilakukan karena kecerobohannya.

4) Akappiyekappiyasaññitā: dia menganggap apa yang dikerjakannya adalah hal yang diperbolehkan (oleh Vinaya), walaupun sebenarnya tidak diperbolehkan (oleh Vinaya).

5) Kappiye-akappiyasaññitā: dia memahami sesuatu yang diperbolehkan sebagai yang tidak diperbolehkan tetapi tetap mengerjakannya juga.

6) Sati-sammosā: dia mengerjakannya dengan ‘perhatian yang diliputi oleh khayalan-khayalannya sendiri’.



Benih dan Ladang Kamma-baik yang Subur
Selama satu bulan masa Kaṭhina umat Buddha berlomba-lomba untuk menanam benih kamma-baik melalui persembahan jubah Kaṭhina. Seperti halnya seseorang yang bercocok-tanam, kualitas panen mereka sangat ditentukan oleh dua hal: benih dan ladang dimana benih tersebut ditanam. Benih yang berkualitas super yang ditanam di ladang yang subur akan menghasilkan panen yang berlimpah. Demikian pula dengan persembahan jubah Kaṭhina dimana kualitasnya akan sangat ditentukan oleh dua hal: kualitas pemberi dan penerima persembahan.

Buddha mengajarkan bahwa untuk mendapatkan buah-kamma-baik yang maksimal maka pemberi persembahan haruslah seseorang yang bermoral dan penuh pengendalian diri,[3] atau dia harus memenuhi tiga faktor dibawah ini:

1. Sebelum mempersembahkan, batinnya dipenuhi kebahagiaan.

2. Pada saat mempersembahkan, batinnya bersuka-cita dengan keyakinan yang teguh.

3. Setelah mempersembahkan, batinnya dipenuhi oleh perasaan suka-cita.[4]

Di dalam Dakkhiṇāvibhaṅga sutta, Buddha juga mengajarkan bahwa sesuatu yang dipersembahkan haruslah dari hasil kerja yang benar,[5] mempersembahkannya dengan batin yang jernih dan keyakinan yang teguh akan buah-kamma. Persembahan yang seperti ini disebut sebagai persembahan yang telah dimurnikan oleh pemberi. Dengan terpenuhinya syarat-syarat tersebut maka pemberi telah menanam benih kamma-baik yang berkualitas super.[6] Dia tidak perlu khawatir apakah persembahannya nanti akan berbuah ataukah tidak; karena setiap persembahan pasti akan membuahkan hasil berupa usia panjang, kecantikan, kebahagiaan dan kekuatan.[7] Tidak ada persembahan yang sia-sia, meskipun yang dipersembahkan adalah benda yang tidak berguna buat penerima sekalipun.[8] Di dalam setiap persembahan, yang terpenting adalah bagaimana kita mempersembahkannya; bukan apa yang kita persembahkan.

Keyakinan akan suatu persembahan yang telah dilakukan sebagai tidak mempersembahkan apapun adalah pandangan-salah (micchādiṭṭhi). Di dalam Mahācattārīsaka sutta,[9] pandangan-salah mencakup pandangan seseorang yang berkeyakinan bahwa ‘tidak ada yang dipersembahkan’ dan ‘tidak ada buah dari kamma-baik’. Kalau orang tersebut meninggal dunia dengan tetap melekat pada pandangan-salah ini maka dia akan terlahir di alam neraka.[10]

Para bhikkhu, saya tidak melihat satu dhamma pun yang sangat pantas dicela selain pandangan-salah. Kemelekatan kepada pandangan-salah sangatlah pantas untuk dicela.[11]

Persembahan yang diberikan kepada seseorang yang tidak bisa mengendalikan diri dari lobha, dosa dan moha adalah persembahan yang tidak dimurnikan oleh penerima;[12] --dia adalah ladang yang tidak subur untuk menanam kamma-baik. Konsekwensinya adalah bahwa benih-kamma yang ditanam tidak akan menghasilkan buah-kamma yang sempurna. Seorang anggota saṅgha, disamping harus mematuhi paṭimokkha, dia juga harus mempunyai gaya-penghidupan-benar. Dia hendaknya dengan bijak menempatkan dirinya semata-mata sebagai ladang bagi umat untuk menanam benih kamma-baiknya. Dia tidak boleh meminta-, membujuk- atau menganjurkan-, mengisyaratkan-jenis persembahan-sesuai-yang-dia-mau, tidak menghargai benda yang dipersembahkan oleh para umat serta memberikan sesuatu kepada umat demi mendapatkan sesuatu sebagai imbalannya. Hal ini adalah gaya-penghidupan-salah (micchājīva)[13] yang harus dihindari oleh para anggota saṅgha. Dengan demikian saṅgha tidak melukai hati para umat yang dengan penuh keyakinan sudah berbuat kebajikan.

Di dalam kitab komentar diceritakan bagaimana pelimpahan jasa yang dilakukan oleh seorang istri, bahkan sampai selama tiga kali, tidak bisa diterima oleh suaminya yang terlahir sebagai peta dikarenakan dia melakukan persembahan tersebut kepada anggota saṅgha yang tidak bermoral, penuh lobha, dosa dan moha. Peta tersebut dengan penuh kesedihan berkata, “Seorang yang tidak bermoral telah tiga kali mencuri kekayaan ku.” Kemudian, pada waktu dia melakukan persembahan kepada seorang bhikkhu yang bermoral, maka peta tersebut bisa mengucapkan, “Sadhusadhusadhu”, dan diapun keluar dari alam kehidupan peta. Moral dari cerita ini adalah bahwa seharusnya seorang anggota saṅgha bisa mengendalikan diri dari keinginan-keinginan dan tidak menganjurkan umat yang akan berdana untuk melekat kepada individu bhikkhu. Mengajarkan kemelekatan ataupun kesetiaan umat kepada vihāra tidak lah juga dibenarkan. Buddha mengajarkan bahwa kemelekatan terhadap Dhamma pun harus ditinggalkan, apalagi kemelekatan terhadap hal-hal yang bukan Dhamma.[14] Oleh karena itu maka saṅgha harus memberikan pendidikan yang benar dengan senantiasa menganjurkan umat yang akan berdana untuk tidak melekat, tidak ada fanatisme dan membimbing mereka untuk melakukan persembahan kepada saṅgha, bukan kepada individu bhikkhu. Hal ini harus dilakukan atas dasar cinta dan belas kasih semata-mata demi kesuburan kamma-baik dan kebahagiaan mereka.

Dengan demikian baik benih kamma maupun ladang tempat menanam nya adalah dari jenis yang berkualitas super. Persembahan seperti ini adalah yang disebut Buddha sebagai persembahan yang telah dimurnikan oleh pemberi dan penerima.[15] Jadi buah dari persembahan akan menjadi baik apabila pemberi dan penerima persembahan adalah seseorang yang bermoral, penuh pengendalian diri, jauh dari lobha, dosa dan moha.[16]


Kaṭhina: Bertemunya Dua Kepentingan Spiritual
Persembahan jubah Kaṭhina adalah satu momen dimana dua ‘kepentingan-spiritual’— dari saṅgha dan umat— bertemu. Di sisi umat, persembahan jubah Kaṭhina adalah momen dimana mereka mendapatkan kesempatan untuk melakukan kebajikan. Kebajikan ini mempunyai kekuatan untuk memurnikan dan menyempurnakan kecenderungan-kecenderungan positif di batin mereka. Kebajikan ini juga lah yang memastikan kebahagiaan mereka, baik di dalam kehidupan sekarang maupun di kehidupan-kehidupan mendatang[17] sehingga pada gilirannya akan menjadi faktor yang berkontribusi buat pencapaian Nibbāna.
Persembahan jubah Kaṭhina juga mengandung arti dukungan dan komitmen para umat kepada saṅgha. Dengan menjamin kelangsungan hidup saṅgha maka para umat juga menjamin kelangsungan hidup Dhamma. Dengan didukung oleh kebajikan yang telah dilakukan dan tersedianya Dhamma sebagai penuntun mereka maka pintu untuk mengakhiri dukkha pun menjadi terbuka lebar.
Dari sisi saṅgha, persembahan jubah Kaṭhina adalah titik kulminasi dari serangkaian latihan disiplin yang telah mereka jalankan selama 3 bulan masa vassāvāsa (retret musim hujan) yang dimulai satu hari setelah purnama di bulan Juli dan diakhiri di purnama bulan Oktober. Pada awal masa vassa para anggota saṅgha meneguhkan tekad untuk berdiam diri di suatu tempat dan tidak berpindah-pindah.[18] Biasanya di negara Buddhis seperti Myanmar, masa vassa akan benar-benar dimanfaatkan oleh para anggota saṅgha untuk belajar, berlatih dan mengajar secara lebih serius dan intensif. Pada akhir masa vassa, para anggota saṅgha akan saling ‘mengundang’ satu sama lain[19] untuk saling menunjukkan pelanggaran disiplin yang telah dilakukan apabila mereka telah melihatnya, mendengar dari orang lain atau mencurigainya. Anggota saṅgha yang telah melakukan kesalahan harus bisa menerimanya dengan lapang dada. Dengan cara seperti ini lah para anggota saṅgha saling membantu untuk memurnikan diri mereka masing-masing. Anggota saṅgha yang telah termurnikan akan menjadi ladang yang baik buat para umat untuk menanam benih kamma-baik; seandainya pun mereka ingin melakukan persembahan kepada individu saṅgha. Kegagalan dalam mematuhi rangkaian latihan disiplin yang telah disebutkan diatas akan berdampak kepada ketidak-layakan anggota saṅgha tersebut untuk menerima persembahan jubah Kaṭhina. Pada saat tidak ada seorang anggota saṅgha pun yang layak menerima persembahan jubah Kaṭhina, maka vihāra tempat mereka tinggal tidak diperbolehkan untuk mengadakan persembahan jubah Kaṭhina.
Dengan memasuki kehidupan-suci (brahmacariya), para anggota saṅgha telah dengan suka-rela mendedikasikan kehidupannya untuk mempelajari Tipiṭaka dengan benar dan kemudian melatih-diri guna mencapai pembebasan dari saṃsāra. Setelah belajar dan melatih dirinya maka anggota saṅgha, pada gilirannya, akan membabarkan Dhamma kepada para umat. Dengan demikian Dhamma akan senantiasa tersedia untuk para umat sebagai sumber kekuatan dan inspirasi ditengah-tengah kesulitan yang mereka hadapi di kehidupan sehari-hari. Dengan selalu tersedianya Dhamma, maka anggota saṅgha dan para umat akan mendapatkan kesempatan untuk melihat Buddha.[20]

Yo kho, Vakkali, dhammaṃ passati, so maṃ passati Yo maṃ passati, so dhammaṃ passati.
(Vakkali, dia yang melihat Dhamma, melihat Saya. Dia yang melihat Saya, melihat Dhamma.)[21]

Sekarang kita sudah melihat bagaimana dua kepentingan spiritual tersebut bertemu di bulan persembahan jubah ini. Mengingat sedemikian pentingnya maka kemurnian dari Kaṭhina haruslah dijaga. Untuk itu tugas berat tentunya ada pada saṅgha. Saṅgha lah yang harus memberikan pengertian yang benar serta memberikan contoh yang baik –sesuai dengan Dhamma dan Vinaya –kepada para umat; semata-mata agar benih kamma yang ditanam dan ladang tempat menanam menjadi subur. Kesuburan inilah yang akan menjadi faktor penting yang berkontribusi untuk kebahagiaan dan pencapaian tujuan akhir dari perjalanan spiritual –mencapai keadaan batin yang bebas dan tak-tergoyahkan, bebas dari segala bentuk penderitaan – Nibbāna.


Penutup
Kaṭhina menjadi saat yang tepat untuk memberikan dukungan umat kepada saṅgha. Dengan memberikan dukungan kepada saṅgha maka mereka bisa belajar, berlatih dan akhirnya mengajarkan Dhamma kepada umat. Mengingat sedemikian pentingnya, maka kemurnian Kaṭhina haruslah dijaga. Melakukan inovasi-inovasi yang tidak ada rujukan teks nya adalah menyalah-artikan Dhamma.
Kaṭhina juga menjadi saat yang baik buat anggota saṅgha untuk merenungkan kembali tujuan mereka memasuki kehidupan suci ini. Kaṭhina hendaknya tidak dijadikan sarana untuk memupuk akar-akar kejahatan –lobha, dosa dan moha –melainkan demi memperteguh tekad mereka untuk belajar dan berlatih.
Dengan demikian, Kaṭhina benar-benar menjadi sesuatu yang pantas untuk dirayakan karena bertemunya dua kepentingan spiritual –saṅgha dan umat –kepentingan spiritual yang berujung pada tercapainya pembebasan-batin yang tidak-tergoyahkan. Inilah satu-satunya Dhamma yang harus di-realisasi.[22]



Buddhasāsanaṃ ciraṃ tiṭṭhatu,
Semoga Buddha sāsanā bertahan lama [di bumi],

Ashin Kheminda
For Prasadha Jinarakkhita Buddhist Institute
www.pjbi.org

Catatan:
· Semua rujukan menggunakan nomor buku dan halaman dari Caṭṭhasaṅgāyana CD, Version 3.0 ©1999

[1] M 1.197

[2] Sejak Buddha parinibbāna, banyak inovasi-inovasi praktik dan latihan telah dilakukan oleh generasi penerusNya. Tetapi melakukan inovasi yang tidak ada rujukan kitab sucinya serta bertentangan dengan apa yang telah ditentukan adalah keliru dalam menafsirkan Dhamma dan Vinaya; hal yang demikian ini bisa jadi sangat menyesatkan –hanya akan menghasilkan penderitaan dan tidak bermanfaat buat pencapaian Nibbāna.

[3] Lihat M 3.253

[4] A 3.335

[5] Bukanlah sesuatu yang didapat dari hasil pelanggaran sīla.

[6] Di sutta ini pula Buddha mengajarkan bahwa persembahan duniawi yang paling superior adalah ketika seorang arahat mempersembahkan sesuatu kepada arahat.

[7] Setiap hari anggota saṅgha menerima derma makanan yang berlimpah dari para umat yang mengakibatkan tidak semua makanan bisa dimakan oleh anggota saṅgha tersebut. Dengan berlimpahnya makanan di atas meja, bukan berarti para umat tidak mendapatkan buah apapun dari persembahannya. Persembahan dia tetap merupakan kamma-baik yang akan menghasilkan āyu, vaṇṇo, sukhaṃ, balaṃ di kehidupan sekarang maupun yang akan datang.

[8] Kh. 7.6 mencatat dāyakā ca anipphalā ([persembahan] para pemberi tidak pernah tanpa-buah)

[9] M 3.71

[10] Pandangan seperti ini disebut sebagai niyāta micchādiṭṭhi, yakni pandangan-salah dengan nasib yang sudah pasti –terlahir di neraka. Niyāta micchādiṭṭhi melingkupi 3 pandangan-salah: ahetuka-diṭṭhi, akiriya-diṭṭhi dan natthika-diṭṭhi.

[11] A 1.33

[12] Sutta ini juga membedakan persembahan menjadi dua, yakni kepada individu dan saṅgha. Kualitas persembahan kepada individu, bahkan kepada seorang Buddha pun tidak akan pernah bisa melebihi kualitas persembahan yang ditujukan kepada saṅgha.

[13] M 3.75

[14] M 1.135: dhammāpi vo pahātabbā pageva adhammā

[15] M 3.253

[16] Lihat A 3.44 dan M 3.253

[17] Disebut sebagai ‘kebajikan’ karena ‘memurnikan (batin) seseorang yang melakukannya, menyempurnakan kecenderungannya dan menghasilkan kelahiran yang baik’ (Vibh. A 142)

[18] Dengan alasan-alasan tertentu yang telah diatur di dalam Vinaya –misalnya menerima permintaan dari saṅgha ataupun umat untuk membabarkan Dhamma –anggota saṅgha diijinkan untuk bepergian selama tidak melebihi 7 malam berturut-urut. Selama masa vassa, tanpa alasan yang jelas anggota saṅgha juga tidak diijinkan untuk meninggalkan vihāra tanpa keinginan untuk kembali sebelum fajar merekah.

[19] Pavāranā (Pāḷi)

[20] Tentu saja bukan melihat Buddha secara fisik tetapi memahami dan mengerti bahwa Dhamma adalah perwujudan dari kualitas-kualitas Buddha itu sendiri.

[21] S 3.120

[22] D 3.273: katamo eko dhammo sacchikātabbo? akuppā cetovimutti. Ayaṃ eko dhammo sacchikātabbo.

========================
Sumber: https://www.facebook.com/notes/abhidhamma-madeeasy/persembahan-jubah-ka%E1%B9%ADhina-sebuah-renungan/337136536384379

   
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »

Find Us on Facebook