You are here: Home Artikel Kumpulan Dhamma

Artikel Buddhist

Artikel Buddhist

Detik-detik menjelang Kematian


Oleh : Y.M.B. Kheminda.




Aϑå 3 tanda menjelang detik-detik kematian seseorang, yaitu :

1. Kamma : Perbuatan...
Perbuatan 2x di masa lalu akan muncul seketika seakan 2x kita sedang melakukannya pada saat itu.

Org yg semasa hidupny bnyk melakukan perbuatan baik, akan mudah mengingat perbuatan2 baik yg pernah dlakukannya, ibarat pohon yg mengarah ke timur jika dtebang akan tetap mengarah ke timur, begitu pula lah pikiran mnjelang kematian.

Oleh karena itu, kalau menghadapi orang yg sedang menghadapi kematian, harus diingatkan perbuatan 2x baik yg pernah diperbuat "JANGAN" pernah menanyakan bagaimana keadaannya pada saat itu, karena yg bersangkutan akan semakin takut & cemas.

2. Kammanimitta
: Alat yg digunakan pada saat seseorang untuk melakukan suatu perbuatan.

Maksudnya, semasa hidupnya dia menggunakan alat tersebut untuk melakukan perbuatan baik atau buruk.
Misalnya: seorang penjagal babi, ddetik2 mnjelang kematiannya melihat pisau.

3. Gattinimita
: Tempat yg akan dituju/dilahirkan, disanalah dia akan terlahir kembali.
Misalnya pada saat menjelang kematiannya, yg bersangkutan melihat api, berarti akan terlahir di alam "niraya : neraka".
Melihat hutan, akan trlahir sebagai asura: raksasa. Tetapi jika melihat kereta 2x kencana & "Bodhisattva : Makhluk luhur", yg bersangkutan akan terlahirkan di alam "sukkhavati : bahagia".

Orang yg takut menghadapi kematian adalah :

1. Orang yg tidak mampu melepaskan kesenangan 2x duniawi.

2. Orang yg tidak mampu melepaskan kemelekatan pada tubuh jasmani.

3. Orang yg belum pernah melakukan perbuatan 2x baik.

4. Orang yg belum memahami "dhamma : kebenaran".

Oleh karenanya persiapkanlah diri kita dengan kebajikan 2x, mis :
Berdana : amal, menjalankan sila : ber moral & meditasi untuk melatih kesadaran.


 

Artikel Buddhist

Tanggung Jawab Universal dan Lingkungan Global Kita


Oleh H. H. Dalai Lama
Penerjemah : Rudi Agus Widono
Editor : Tim AB
©2010 Artikel Buddhis (AB)
Anda dipersilahkan menyalin, merubah bentuk, mencetak, mempublikasi, dan mendistribusikan karya ini dalam media apapun, dengan syarat:
(1) Tidak diperjualbelikan;
(2) Dinyatakan dengan jelas bahwa segala turunan dari karya ini (termasuk terjemahan) diturunkan dari dokumen sumber ini; dan
(3) menyertakan teks lisensi ini lengkap dalam semua salinan atau turunan dari karya ini. Jika tidak, maka hak penggunaan tidak diberikan.
Ketika berakhirnya abad ke-20, kita menemukan bahwa dunia telah semakin mengecil. Manusia di dunia telah hampir menjadi satu komunitas. Politik dan Aliansi (Persekutuan) militer telah menciptakan kelompok multinasional yang besar; industri dan perdagangan internasional telah menghasilkan ekonomi global. Komunikasi di seluruh dunia melenyapkan penghalang jarak, bahasa dan ras. Kita juga terseret bersama oleh masalah besar yang kita hadapi yaitu: kelebihan penduduk, menipisnya sumber daya alam, dan krisis lingkungan yang mengancam udara, air, dan pepohonan, serta begitu banyak bentuk kehidupan yang indah yang menjadi pondasi penting keberadaan planet kecil yang kita tinggali bersama ini.
Saya percaya bahwa untuk menghadapi tantangan di zaman kita ini, umat manusia harus membentuk rasa tanggung jawab universal yang lebih kuat. Masing-masing kita harus belajar untuk bekerja tidak hanya untuk dirinya, keluarga atau bangsanya sendiri, tetapi juga demi kepentingan seluruh umat manusia. Tanggung jawab universal adalah kunci nyata menuju kelangsungan hidup manusia. Ini merupakan pondasi/dasar terbaik untuk kedamaian dunia, penggunaan sumber daya alam yang wajar, dan dengan memperhatikan generasi mendatang, kepedulian terhadap lingkungan.
Itulah mengapa begitu melegakan melihat organisasi-organisasi non-pemerintah seperti kalian. Peran kalian dalam mengasah masa depan yang lebih baik sangat diperlukan. Saya telah melewati banyak organisasi seperti itu yang dibentuk oleh sukarelawan berdedikasi yang memiliki kepedulian yang tulus bagi sesama umat manusia. Komitmen seperti ini menggambarkan “garis depan” proses sosial dan lingkungan.
Terserah kita suka atau tidak, kita telah dilahirkan di dunia ini sebagai bagian dari satu keluarga besar. Kaya atau miskin, berpendidikan atau terbelakang, menjadi milik suatu bangsa, agama, ideologi atau yang lainnya, pada akhirnya masing-masing dari kita hanyalah seorang manusia biasa seperti yang lainnya. Kita semua menginginkan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan. Lagi pula, masing-masing dari kita memiliki hak yang sama untuk mengejar kebahagiaan dan menghindari penderitaan. Saat anda menyadari semua makhluk adalah sama dalam hal ini, anda akan otomatis merasakan empati dan kedekatan pada mereka. Di luar ini semua, pada gilirannya, muncul rasa tanggung jawab universal sejati, yaitu keinginan untuk secara aktif membantu sesama melewati semua masalah mereka.
Kebutuhan akan rasa tanggung jawab universal muncul di setiap aspek kehidupan modern. Pada masa kini, suatu kejadian yang signifikan (penting) di satu sisi bagian dunia akhirnya memengaruhi seluruh planet. Oleh karena itu, kita harus memperlakukan setiap masalah besar yang bersifat lokal sebagai urusan global, dari saat masalah tersebut dimulai. Kita tidak bisa lagi meminta dinding pembatas nasional, rasial (berdasarkan cirri-ciri fisik, ras, bangsa, suku bangsa, dsb) dan ideologi yang memisahkan kita tanpa reaksi yang merusak. Dalam konteks rasa saling ketergantungan kita yang baru ini, mengingat ketertarikan kita kepada yang lain adalah jelas –jelas merupakan bentuk terbaik dari kepentingan pribadi (self – interest).
Kita perlu menghargai rasa saling ketergantungan akan alam jauh lebih dari yang pernah kita lakukan pada masa lalu. Kekelirutahuan (Ketidaktahuan) kita akan hal ini adalah tanggung jawab secara langsung pada banyak masalah yang kita hadapi sekarang. Contohnya, “menyadap” sumber daya alam yang terbatas di bumi kita -- terutama di negara-negara berkembang -- hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, adalah bencana. Jika ini berlanjut tanpa perbaikan, pada akhirnya kita semua akan menderita. Kita harus menghormati keseimbangan hidup dan memberinya kesempatan memperbaiki dirinya sendiri.
Ketidaktahuan (Kekelirutahuan) akan sifat yang saling bergantung ini tidak hanya akan merugikan lingkungan alam, tapi juga kehidupan sosial manusia. Bukannya saling menjaga satu sama lain, kita malah banyak menempatkan hasrat kita akan kebahagiaan dengan mengejar materi untuk kepentingan pribadi. Kita menjadi begitu terpikat dalam pengejaran ini hingga tanpa menyadarinya, kita telah lalai mengembangkan kebutuhan paling dasar manusia akan cinta, kebaikan dan kebersamaan. Ini betul-betul menyedihkan. Kita harus mengingat apa sebenarnya kita sebagai manusia. Kita bukanlah benda-benda yang dibuat oleh mesin. Bagaimanapun, karena kita bukanlah makhluk materi semata, merupakan kesalahan untuk mencari pemuasan eksternal saja.
Untuk mencapai pertumbuhan yang tepat, kita perlu memperbarui komitmen kita pada nilai-nilai manusia dalam banyak bidang. Kehidupan politik, tentu saja, membutuhkan etika sebagai pondasi, tapi ilmu pengetahuan dan agama, juga sebaiknya, harus dikejar dengan moral sebagai dasarnya. Tanpanya para ilmuwan tidak bisa membedakan antara teknologi yang menguntungkan dan yang memang bermanfaat. Kerusakan lingkungan di sekitar kita adalah hasil yang paling jelas dari kebingungan ini. Dalam hal agama, tentu saja moral diperlukan.
Tujuan suatu agama adalah tidak untuk membuat bangunan yang indah, tapi untuk menumbuhkan kualitas positif manusia seperti toleransi, kemurahan hati dan kasih sayang. Setiap agama di dunia, tidak peduli apa filosofi yang dimilikinya, didirikan pertama kali dan yang terutama atas aturan bahwa kita harus mengurangi keegoisan kita dan melayani sesama. Sayangnya, terkadang dalam nama agama, orang mengakibatkan lebih banyak perselisihan daripada pemecahan masalah. Para praktisi dengan keyakinan yang berbeda harus menyadari bahwa setiap tradisi agama memiliki nilai hakiki yang besar yang dimaksudkan untuk mendukung kesehatan mental dan spiritual.
Saya telah sangat berbesar hati mengikuti perkembangan terakhir dalam pencarian perdamaian antara warga Israel dan Palestina. Gencatan senjata kedua pihak, dan berbicara secara langsung adalah, pendapat saya, satu-satunya cara untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi. Kita harus belajar hidup bersama dalam jalan tanpa kekerasan yang dapat memelihara kebebasan semua orang.
Ada sebuah syair luar biasa dalam Alkitab tentang mengubah pedang menjadi mata bajak. Itu sebuah gambaran yang indah, sebuah senjata berubah menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, simbolis suatu sikap perlucutan senjata dalam dan luar. Dalam semangat pesan kuno ini, Saya pikir penting bagi kita untuk menekankan sebuah kebijakan mendesak yang telah lama tertunda penghapusan militer di seluruh dunia. Penghapusan militer akan membebaskan sumber daya manusia dalam jumlah besar yang dapat dipakai untuk melindungi lingkungan, pengentasan kemiskinan, dan keberlangsungan pembangunan manusia.
Saya selalu memimpikan masa depan negara Saya, Tibet, jika didirikan dengan dasar ini. Tibet akan menjadi tempat berlindung bebas militer yang netral, tempat dilarangnya keberadaan senjata dan manusia hidup dalam harmoni dengan alam. Saya menyebutnya Daerah Ahimsa atau tanpa kekerasan. Ini bukan mimpi semata – ini betul-betul cara hidup yang diambil penduduk Tibet selama ribuan tahun lebih sebelum negara kami diserbu. Di Tibet, kehidupan liar dilindungi mengikuti prinsip Buddhis. Kami membuat peraturan perlindungan lingkungan, tapi lingkungan terlindungi lebih karena paham yang ditanamkan sejak masih kanak - kanak.
Saya akan menutupnya dengan mengucapkan bahwa Saya merasa optimis tentang masa depan. Ada sejumlah tren baru-baru ini yang menunjukkan potensi kita untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Perubahan yang terjadi secara bertahap dalam sikap kita terhadap bumi ini adalah sumber harapan. Seperti baru saja sekitar satu dekade lalu, tanpa pikir panjang kita menelan sumber daya alam di dunia seakan-akan sumber daya tersebut tidak terbatas. Kita gagal menyadari bahwa konsumsi tanpa pengendalian adalah bencana bagi kedua lingkungan dan kesejahteraan sosial. Sekarang, kedua individu dan pemerintah sedang mencari sistem baru yang ramah lingkungan dan ekonomis.
Memang benar bahwa hingga akhir tahun 1980-an, banyak orang percaya bahwa perang merupakan suatu keadaan yang tak terelakan oleh umat manusia. Pandangan yang muncul saat itu adalah bahwa orang-orang dengan minat/kepentingan yang bertentangan hanya bisa berhadapan satu sama lain (ctt: bisa jadi berperang). Namun, pandangan ini telah berkurang. Saat ini seluruh dunia lebih berkomitmen untuk hidup berdampingan secara damai, sebagai buktinya ada disini, di kawasan Timur Tengah. Ini merupakan perkembangan yang positif disamping mengherankan.
Setelah selama berabad-abad percaya bahwa suatu masyarakat hanya bisa diatur dengan sikap disiplin yang keras dan kaku, Manusia di seluruh penjuru dunia telah menyadari nilai positif dari suatu demokrasi. Berbicara dari hati mereka, mereka telah menunjukkan bahwa keinginan kuat akan kebebasan dan kebenaran serta demokrasi tumbuh dari sebuah bibit yaitu sifat dasar manusia. Kejadian yang belum lama ini terjadi di dunia telah membuktikan ekspresi kebenaran sederhana, yaitu sebuah kekuatan dahsyat dalam pikiran manusia, dan sebagai hasilnya, ia membentuk sejarah.
Salah satu pelajaran terbesar untuk kita semua adalah perubahan penuh kedamaian di bagian timur Eropa. Pada zaman dahulu, orang yang tertindas selalu mengambil jalan kekerasan dalam perjuangannya mendapatkan kebebasan. Sekarang, revolusi penuh damai tersebut, mengikuti jejak kaki Gandhi dan Martin Luther King, telah memberikan kepada generasi penerus mereka contoh luar biasa, perubahan tanpa kekerasan. Ketika, di masa depan, terjadi peningkatan kebutuhan untuk mengubah masyarakat, anak cucu kita bisa melihat kembali ke tahun 1989 sebagai paradigma perjuangan demi kedamaian: kisah nyata kesuksesan pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, melibatkan lebih dari setengah lusin negara dan ratusan juta orang.
Sementara itu, telah tumbuh kewaspadaan tentang hak asasi manusia. Cara kasar tidak akan pernah menundukkan hasrat mendasar manusia akan kebebasan, kebenaran dan demokrasi, yang merupakan hak fundamental kita. Orang sudah tentu tidak suka seseorang atau sebuah sistem yang mengganggu, curang dan memiliki kebohongan. Segala perbuatan ini bertolak belakang dengan jiwa manusia.
Semua tanda-tanda menggembirakan ini mencerminkan sebuah penghargaan baru bagi nilai-nilai dasar manusia. Karena pelajaran yang telah mulai kita ambil, abad berikutnya akan lebih bersahabat, lebih rukun, dan tanpa ancaman. Belas kasihan, bibit kedamaian, akan mampu tumbuh dengan subur. Di waktu yang sama, Saya percaya semua individu memiliki tanggung jawab yang sama untuk membantu memandu keluarga besar kita ke arah yang benar. Keinginan baik saja tidak cukup, masing-masing kita harus memikul tanggung jawab tersebut.
Saya berharap dan berdoa di hari-hari berikutnya, masing-masing dari kita akan melakukan semua yang kita bisa untuk melihat bahwa cita-cita menciptakan dunia yang lebih menyenangkan, lebih rukun dan sehat akan tercapai.
[dari: Tibetan Bulletin (Maret- April 1994]
[ini adalah pesan yang alamatnya ditujukan kepada Society for the Protection of Nature, Israel, pada Maret 22, 1994]

==================================================

Universal Responsibility and Our Global Environment
by H. H. the Dalai Lama

As the twentieth century draws to a close, we find that the world has grown smaller. The world's people have become almost one community. Political and military alliances have created large multinational groups; industry and international trade have produced a global economy. Worldwide communications are eliminating ancient barriers of distance, language and race. We are also being drawn together by the grave problems we face: overpopulation, dwindling natural resources, and an environmental crisis that threatens our air, water, and trees, along with the vast number of beautiful life forms that are the very foundation of existence on this small planet we share.
I believe that to meet the challenge of our times, human beings will have to develop a greater sense of universal responsibility. Each of us must learn to work not just for his or her own self, family or nation, but for the benefit of all mankind. Universal responsibility is the real key to human survival. It is the best foundation for world peace, the equitable use of natural resources and, through concern for future generations, the proper care of the environment.
That is why it is so heartening to see such non-governmental organisations as yours. Your role in forging a better future is absolutely essential. I have come across many such orgaisations built by dedicated volunteers out of genuine concern for their fellow human beings. Such commitment represents the forefront of both social and environmental progress.
Whether we like it or not, we have all been born on this earth as part of one great family. Rich or poor, educated or uneducated, belonging to one nation, religion, ideology or another, ultimately each of us is just a human being like everyone else. We all desire happiness and do not want suffering. Furthermore, each of us has the same right to pursue happiness and avoid suffering. When you recognise that all beings are equal in this respect, you automatically feel empathy and closeness for them. Out of this, in turn, comes a genuine sense of universal responsibility -- the wish to actively help others overcome their problems.
The need for a sense of universal responsibility is present in every aspect of modern life. Nowadays, significant events in one part of the world eventually affect the entire planet. Therefore, we have to treat each major local problem as a global concern from the moment it begins. We can no longer invoke the national, racial or ideological barriers that separate us without destructive repercussions. In the context of our new interdependence, considering the interest of others is clearly the best form of self-interest.
We need to appreciate interdependence in nature far more than we have in the past. Our ignorance of it is directly reponsible for many of the problems we face. For instance, tapping the limited resources of our world -- particularly those of the developing nations -- simply to fuel consumerism, is disastrous. If it continues unchecked, eventually we will all suffer. We must respect the delicate balance of life and allow it to replenish itself.
Ignorance of interdependence has not only harmed the natural environment, but human society as well. Instead of caring for one another, we place most of our efforts for happiness in pursuing individual material consumption. We have become so engrossed in this pursuit that, without knowing it, we have neglected to foster the most basic human needs of love, kindness and cooperation. This is very sad. We have to consider what we human beings really are. We are not machine-made objects. However, since we are not solely material creatures, it is a mistake to seek fulfillment in external development alone.
To pursue growth properly, we need to renew our commitment to human values in many fields. Political life, of course, requires an ethical foundation, but science and religion, as well, should be pursued from a moral basis. Without it scientists cannot distinguish between beneficial technologies and those which are merely expedient. The environmental damage surrounding us is the most obvious result of this confusion. In the case of religion, it is particularly necessary.
The purpose of religion is not to construct beautiful buildings, but to cultivate positive human qualities such as tolerance, generosity and love. Every world religion, no matter what its philosophical view, is founded first and foremost on the precept that we must reduce our selfishness and serve others. Unfortunately, sometimes in the name of religion, people cause more quarrels than they solve. Practitioners of different faiths should realise that each religious tradition has immense intrinsic value as a means for providing mental and spiritual health.
I have been extremely heartened to follow the recent developments in the search for peace between Israelis and Palestinians. Laying down guns on both sides, and talking face-to-face is, in my opinion, the only way to resolve such disputes. We must learn to live together in a nonviolent way that nurtures the freedom of all people.
There is a wonderful verse in the Bible about turning swords into ploughshares. It is a lovely image, a weapon transformed into a tool to serve basic human needs, symbolic of an attitude of inner and outer disarmament. In the spirit of this ancient message, I think it is important that we stress today the urgency of a policy that is long overdue -- the demilitarisation of the entire planet. Demilitarisation would free great human resources for protection of the environment, relief of poverty, and sustainable human development.
I have always envisioned the future of my own country, Tibet, as founded on this basis. Tibet will be a neutral, demilitarised sanctuary where weapons are forbidden and the people live in harmony with nature. I have called this a Zone of Ahimsa or non-violence. This is not merely a dream -- it is precisely the way Tibetans tried to live for over a thousand years before our country was tragically invaded. In Tibet, wildlife was protected in accordance with Buddhist principles. We enacted decrees to protect the environment, but it was mainly protected by the beliefs which were installed in use as children.
I would like to conclude by stating that I feel optimistic about the future. There are a number of recent trends which show our potential for achieving a better world. The rapid changes in our attitude towards the earth are a source of hope. As recently as a decade ago, we thoughtlessly devoured the resources of the world as if there was no end to them. We failed to realise that unchecked consumerism was disastrous for both the environment and social welfare. Now, both individuals and governments are seeking a new ecological and economic order.
It is true to say that as late as the 1980s people believed that war was an inevitable condition of mankind. The notion prevailed that people with conflicting interests could only confront each other. This view has deminished. Today people all over the globe are more committed to peaceful co-existence, as is evident here in the Middle East. This is an astonishingly positive development.
After believing for centuries that human society could only be governed with rigid authoritarian discipline, people in all corners of the world have woken up to the virtues of democracy. Speaking from their hearts, they have shown that the desire for freedom and truth and democracy stems from the core of human nature. Recent events have proved that the simple expression of truth is an immense force in the human mind, and as a result, in the shaping of history.
One of the greatest lessons for all of us has been the peaceful change in Eastern Europe. In the past, oppressed people have always resorted to violence in their struggle to be free. Now, these peaceful revolutions, following in the footsteps of Gandhi and Martin Luther King, have given future generations a tremendous example of successful, nonviolent change. When, in the future, the need arises to change society, our descendents can look back to 1989 as a paradigm for peaceful struggle: a real success story on an unprecedented scale, involving more than half a dozen nations and hundreds of millions of people.
Meanwhile, there has been a growth of awareness of human rights. Crude power can never subdue mankind's basic desire for freedom, truth and democracy, which are our fundamental right. People simply don't like a person or a system that bullies, cheats and lies. These activities are essentially opposed to the human spirit.
All these encouraging signs reflect a renewed appreciation of the benefits of basic human values. Because of the lessons we have begun to learn, the next century will be friendlier, more harmonious, and less harmful. Compassion, the seeds of peace, will be able to flourish. At the same time, I believe that every individual has a responsibility to help guide our global family in the right direction. Good wishes alone are not enough, we each have to assume responsibility.
I hope and pray that in the days ahead, each of us will do all we can to see that the goal of creating a happier, more harmonious and healthier world is achieved.
[from: Tibetan Bulletin (March-April 1994)

[This is the text of the address delivered to the Society for the Protection of Nature, Israel, on March 22, 1994]

   

Artikel Buddhist

Sila Itu Logika


Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera




"Daripada Hidup 100 Tahun Tetapi Malas,
Lebih Baik Hidup Sehari Tetapi Giat Dan Penuh Semangat"

Telah menjadi satu anggapan umum bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas, mutu lebih diutamakan daripada jumlah. Ungkapan ini sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Antara mutu dan jumlah mempunyai satu keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan dan tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Mengapa demikian? Meskipun jumlah umat Buddha banyak tetapi tidak bermutu, ini tidak akan membawa banyak manfaat dan kemajuan bagi agama Buddha. Begitu juga sebaliknya, walaupun bermutu tetapi orangnya sedikit juga percuma saja. Jadi yang paling baik adalah kuantitas bertambah seiring dengan meningkatnya kualitas.

Di tengah-tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agama Buddha mulai menampakkan dirinya. Orang mulai menaruh perhatian kepada agama Buddha baik secara diam-diam maupun secara terbuka. Di beberapa negara Eropa, orang mulai tertarik untuk mempelajari agama Buddha. Kalau kita bertanya: "Kenapa Anda tertarik pada agama Buddha?" Biasanya mereka akan menjawab: "Agama Buddha ini masuk akal, tidak memaksa dan tidak selalu harus percaya terhadap segala sesuatu tetapi harus dibuktikan terlebih dahulu." Semangat pembuktian, semangat untuk memikirkan dan merenungkan akan keterkaitan satu dengan yang lain bahwa segala sesuatu itu pasti ada sebabnya, sesungguhnya adalah sama dengan cara berpikir ilmiah dan cara kita berpikir dalam kehidupan sehari-hari. Agama Buddha menggunakan jalur ini dalam membuktikan satu asumsi/argumentasi sehingga agama Buddha sering dikatakan sebagai agama yang mirip dengan ilmu pengetahuan. Anggapan ini memang tidak bisa disalahkan karena cara berpikir dan cara pembuktian di dalam agama Buddha memang persis seperti kalau kita membuktikan ilmu pasti. Dalam agama Buddha tidak ada ajaran yang harus langsung diterima begitu saja tanpa boleh dipertanyakan. Misalnya: kenapa kalau sembahyang menggunakan hio, lilin dan bunga, atau kenapa duduknya di lantai? Ini bukan berarti umat Buddha tidak mampu membeli kursi tetapi semua itu ada alasannya, ada aturan mainnya.

Lalu bagaimana cara kita sebagai umat Buddha membedakan antara agama Buddha dengan ilmu pengetahuan?Memang tidak dapat dipungkiri bahwa cara berpikir agama Buddha yang sama dengan ilmu pengetahuan itu sering menimbulkan satu anggapan bahwa "Ilmu pengetahuan sama dengan agama Buddha". Sebagai contoh:

* Menurut ilmu pengetahuan ( matematika )
Jika : A=B
B=C
Maka : A=C
*Kalau:
Pernyataan A      : Ilmu pengetahuan perlu dibuktikan
Pernyataan B      : Agama Buddha perlu dibuktikan ("ehipasiko")
Berarti kesimpulannya :
"Ilmu Pengetahuan Sama Dengan Agama Buddha."


Ini adalah satu kesimpulan yang tidak tepat! Bahkan akan menimbulkan kesulitan di kemudian hari. Misalnya kita ditanya: bagaimana terjadinya bumi, itu masih bisa kita jawab; bagaimana terjadinya menanam padi tumbuh padi, itu pun masih bisa diterangkan. Tetapi kalau kita ditanya misalnya: bagaimana rumus matematika yang "ini" bisa betul, kita tidak bisa menjawabnya. Mengapa? Karena memang agama Buddha bukan persis dengan ilmu pengetahuan. Hanya cara pendekatannya saja yang sama. Jadi antara ilmu pengetahuan dan agama Buddha itu mempunyai kapling atau bidang sendiri-sendiri.


Kapling ilmu pengetahuan adalah urusan material, urusan otak, urusan pengetahuan kita. Yang diselidiki oleh ilmu pengetahuan misalnya bagaimana cara membuat hidup manusia lebih bahagia atau lebih mudah. Umpamanya bagaimana cara membuat rumah yang bagus dan indah dengan biaya yang murah. Atau bagaimana cara me-manajemen perusahaan supaya bisa efisien. Bahkan kalau perlu dilakukan PHK. PHK akan dijalankan walaupun akan muncul korban karenanya. Itu adalah ilmu pengetahuan.

Lain halnya dengan Buddhisme. Buddhisme justru tidak begitu menekankan pada unsur material/duniawi tetapi lebih cenderung pada unsur batin. Umpamanya: karena cuaca panas maka orang menemukan kipas angin, ini adalah bagian dari ilmu pengetahuan. Tetapi bagaimana supaya batin kita tidak stress menghadapi hawa panas yang luar biasa ini, bagaimana menumbuhkan kebahagiaan itu sendiri; ini adalah kapling agama. Jadi ada perbedaan antara ilmu pengetahuan dan agama Buddha. Kasusnya memang sama yaitu kepanasan tetapi kalau kita lihat dari unsur duniawi, itu adalah ilmu pengetahuan; sedangkan kalau dilihat dari unsur batin kita, bagaimana supaya bisa tenang, ini adalah agama.

Contoh yang paling dekat adalah para bhikkhu. Di negara Buddhis yaitu Thailand, pada saat musim dingin akan berganti musim panas; suhu udara sangat dingin pada malam hari hingga 10 derajat Celsius. Sebaliknya pada siang harinya, suhu udara berkisar sekitar 35 derajat Celsius. Padahal atap kuti-kuti para bhikkhu terbuat dari seng. Tentu Saudara bisa membayangkan bagaimana panasnya suhu pada siang hari. Tetapi mengapa di kuti-kuti tidak ada kipas angin dan mengapa para bhikkhu tidak mengalami stress pada waktu itu? Karena sesungguhnya dengan pelajaran agama Buddha ini, kita berusaha untuk menyadari bahwa memang demikianlah kenyataan hidup ini. Kita bisa saja berkata: "Wah... panas, ya?" Tetapi kalau kita renungkan baik-baik, sesungguhnya hal tersebut tidak ada manfaatnya. Panas yang kita rasakan tidak akan hilang dengan kita berkata seperti itu ataupun dengan kita mengomel-ngomel. Akhirnya kita terbiasa untuk menerima kenyataan hidup ini, tidak gampang stress.

Sering ada orang yang bertanya: "Mengapa para bhikkhu bisa tahan untuk tidak memakai kipas angin?" Karena panas dan tidak itu sebetulnya tergantung di dalam diri kita, muncul dari dalam diri kita. Kalau kita sedang gelisah maka suhu badan akan naik. Buktinya apa? Misalnya kalau mau ujian, pukul 07:00 pagi, badan Saudara berkeringat semua. Padahal udara pada pagi hari masih sejuk, kenapa bisa berkeringat? Karena Saudara mengalami stress otak, stress mental! Tetapi kalau ujiannya berjalan dengan lancar meskipun pukul 14:00 siang dan udara sangat panas, semua orang kipas-kipas; Saudara lupa dengan badan Saudara, asyik mengerjakan ujian, tidak berkeringat sedikit pun. Ini karena batin Saudara mengalami ketenangan. Ini adalah suatu bukti!Disinilah sebetulnya Buddhisme, cara mengendalikan dan mengolah batin kita supaya terbebas dari stress.

Lalu bagaimana cara mengatasi stress? Bagaimana cara mengendalikan pikiran? Caranya sederhana. Saudara bisa menjalankannya dengan melaksanakan "sila". Sila merupakan langkah awal yang paling sederhana karena hanya terdiri dari 5 (lima) sila yaitu: melatih diri untuk tidak membunuh dan menganiaya, tidak mencuri, tidak melanggar kesusilaan, tidak berbohong dan tidak mabuk-mabukkan. Kalau kita ingin mengembangkan latihan yang lebih dalam lagi, maka kita bisa melaksanakan 8 (delapan) sila atau athasila. Tentu kita akan bertanya: "Bagaimanakah hubungan sila dan logika itu?" Untuk itu mari kita tinjau beberapa diantaranya:

Sila yang pertama adalah tidak melakukan pembunuhan dan penganiayaan. Misalnya Saudara digigit nyamuk.


* Secara ilmu pengetahuan, Saudara akan berpikir bahwa gigitan nyamuk itu akan menimbulkan penyakit. Darah Saudara diisap, ditukar dengan bibit penyakit si nyamuk sehingga bisa mendatangkan penyakit bahkan mungkin kematian. Karena itu adalah kesimpulan pendek, akhirnya Saudara membunuh nyamuk itu. Itu adalah ilmu pengetahuan.


* Berbeda halnya dengan Dhamma. Ajaran Sang Buddha berbeda dengan ilmu pengetahuan karena berdasarkan pada moral/batin kita. Perhitungannya tidak sama dengan ilmu pengetahuan walaupun keduanya memerlukan pembuktian. Kalau ilmu pengetahuan membuktikan bahwa masuknya penusuk sang nyamuk ke dalam tubuh kita akan menularkan penyakit sehingga kita bisa sakit maka pembuktian Buddhisme adalah: "Nyamuk menggigit... mengapa nyamuk menggigit saya?" Ini adalah satu pertanyaan yang cukup penting. "O... karena nyamuk membutuhkan makanan. Mengapa membutuhkan makanan harus menggigit saya?" Ini direnungkan terus. "O... karena nyamuk tidak bisa jajan, tidak bisa pergi ke warung sendiri untuk membeli makanan walaupun diberi uang. Kasihan! Kalau saya membutuhkan makanan masih bisa memilih; hari ini nasi goreng, besok saya ingin makan pecel. Tetapi nyamuk tidak bisa. Hari ini makan darah, besok dan seterusnya tetap makan darah. Kalau begitu,,, saya masih lebih bahagia daripada nyamuk." Akhirnya apa? "Ah... biarlah, saya berdana saja." Ini urusannya sudah lain. Disini Dhamma sudah berbicara. Tetapi kadang-kadang bisa muncul pemikiran: "Wah... kalau saya digigit terus oleh nyamuk, saya akan terserang penyakit. Saya tidak mau ekstrim!" Akhirnya bagaimana? "Kalau saya membunuh nyamuk itu, berarti saya melanggar sila tetapi kalau tidak dibunuh, ilmu pengetahuan saya tidak bermanfaat." Bagaimana caranya? Kita menggunakan jalan tengah; ilmu pengetahuan kita jalankan, Dhamma pun kita praktekkan; yaitu dengan cara mengusir nyamuk itu. Tidak dibunuh tetapi juga tidak dibiarkan. Ini adalah jalan tengah dan tidak ekstrim.

Sila kedua adalah tidak mengambil barang yang tidak diberikan dengan sah. Misalnya Saudara melihat sebuah pulpen.


* Secara ilmu pengetahuan Saudara akan berpikir: "Wah... pulpen saya ketinggalan. Di atas meja ada sebuah pulpen, kebetulan saya juga membutuhkannya." Lalu Saudara mengulurkan tangan untuk mengambil pulpen itu, tetapi Saudara kemudian terpikir: "Menurut hukum, kalau perbuatan saya ini diketahui oleh orang lain, saya mungkin akan dipentungi orang. Alangkah ruginya kalau saya sampai dipentungi gara-gara pulpen seharga Rp 250,-. Wah... ini tidak baik!" Akhirnya Saudara tidak jadi mengambil pulpen itu, untung-ruginya keluar. Ini adalah ilmu pengetahuan.


* Sedangkan perenungan secara Dhamma adalah: "Saya ingin mengambil pulpen yang bukan milik saya. Seandainya ini adalah pulpen saya lalu diambil orang, apa yang terjadi? Saya pasti jengkel. Kalau demikian, pemilik pulpen ini mungkin akan jengkel juga apabila pulpennya hilang." Akhirnya Saudara tidak jadi mengambilnya. Jadi perenungan Buddhisme tidak sama dengan perenungan ilmu pengetahuan. Kalau kita tidak mau milik kita diambil oleh orang lain, hendaknya kita juga jangan mengambil milik orang lain.

Begitu juga dengan sila kelima, yaitu tidak mabuk-mabukkan.


* Menurut ilmu pengetahuan, mabuk-mabukkan itu dapat merusak otak dan ginjal karena alkohol dalam kadar yang tinggi tidak dapat dicerna/diterima oleh alat pencernaan sehingga lambat laun dapat mengakibatkan kematian. Ini adalah perenungan ilmu pengetahuan.


* Sedangkan perenungan Buddhisme: "Kalau Saya minum-minuman keras berarti kesadaran saya akan hilang. Dengan kehilangan kesadaran berarti konsentrasi pun ikut terganggu, sehingga bisa muncul tindakan-tindakan yang dapat melanggar sila-sila yang lain. Saya akan mudah marah bahkan mungkin berkelahi. Kalau begitu... saya tidak mau minum-minuman keras." Ini adalah perenungan Buddhisme.

Sila keenam adalah tidak makan setelah pukul 12:00 siang.


* Secara ilmu pengetahuan Saudara akan berpikir: "Kalau Saya hanya makan sekali sehari berarti Saya menjalankan sila plus penghematan. Biaya makan dapat Saya gunakan untuk keperluan-keperluan yang lain, misalnya untuk nonton, jalan-jalan dan lain-lain." Ini menurut ilmu pengetahuan.


* Berbeda halnya dengan Dhamma. Sebagai umat Buddha yang meyakini Hukum Kelahiran Kembali, sebetulnya kita sudah mengalami kelahiran berjuta-juta kali. Begitu pula halnya dengan kelaparan. Dengan mengendalikan keinginan makan yang telah muncul sejak berjuta-juta tahun yang telah lampau; secara tidak langsung hal tersebut merupakan latihan untuk mengendalikan emosi, melatih kesabaran dan mempertajam perenungan. Kalau kita mampu mengendalikan keinginan (nafsu) makan yang telah muncul sejak berjuta-juta tahun yang lampau, kita bisa menahan diri untuk tidak marah. Dengan cara itu kita bisa menghadapi segala sesuatunya dengan tenang dan tidak emosi. Walaupun cara menahan makan ini merupakan suatu cara sederhana, tetapi cara ini ada kaitannya dengan kesabaran. Ini adalah perenungan Buddhisme.

Demikian pula halnya dengan sila ketujuh. Misalnya: tidak menggunakan wangi-wangian.


* Secara ilmu pengetahuan, tidak menggunakan wangi-wangian itu mungkin hanya karena kita belajar hidup sederhana/belajar "ngirit". * Tetapi secara Dhamma, sesungguhnya hal tersebut melatih kita untuk berusaha melihat kenyataan bagaimana keadaan kita seandainya tanpa itu semua? Karena latihan sila itu berarti kita belajar seandainya barangnya ada (seperti wangi-wangian, perhiasan, dll.) tetapi kita tidak menggunakan, bagaimana perasaan kita? Sehingga apabila pada suatu ketika betul-betul tidak ada, kita tetap bisa tenang. Misalnya suatu ketika Saudara sedang ujian. Kalau Saudara biasa memuaskan nafsu, apa saja yang diinginkan selalu Saudara turuti maka apabila saat ujian, isi pulpen Saudara habis, apa yang terjadi? Saudara bisa ngomel-ngomel dan pulpennya dibanting sehingga semua peserta yang ada di ruang ujian bisa geger semua. Tetapi kalau Saudara sudah biasa mengendalikan diri; pulpen Saudara habis isinya, mungkin cuma Saudara pandang sebentar lalu dengan tenang Saudara bisa meminjam pada teman Saudara. Seandainya teman Saudara itu tidak mau meminjamkan pulpennya, Saudara juga tidak akan ngomel-ngomel. Mungkin Saudara akan meminjam lagi dari teman yang lain. Tetap tenang dan tidak marah-marah.

Dengan melaksanakan sila akhirnya kita bisa menerima kenyataan bahwa apa yang kita siapkan dan rencanakan itu tidak selalu berhasil, kadang-kadang kita bisa mengalami kegagalan. Disini ilmu pengetahuan tidak bisa menjawab yang demikian ilmu pengetahuan tidak bisa memberikan ketenangan batin. Ilmu pengetahuan tidak bisa memberikan kebahagiaan sejati. Ilmu pengetahuan hanya bisa memberikan kebahagiaan semu/pembantu kebahagiaan saja. Seperti kasus kipas angin tersebut di atas; walaupun ada kipas angin tetap tidak akan mengatasi kepanasan itu sendiri, hanya memindahkan sementara saja. Kalau kipas anginnya dihentikan, kita akan kepanasan lagi. Lain halnya dengan Dhamma yang memberikan rasa tenang dari dalam batin kita. Secara Dhamma kita akan berpikir: "kenapa harus mengeluh kepanasan? Kenapa kita harus menambah penderitaan dengan "stress"? Kalau kita sudah bisa merenungkan demikian maka ketenangan yang muncul dari dalam batin kita akan mampu mengatasi rasa panas itu.

Inilah latihan-latihan yang perlu kita jalankan setiap hari sebagai umat Buddha. Kita harus berusaha untuk melatih sila; 5 (lima) sila setiap hari dan 8 (delapan) sila setiap hari uposatha, dengan tujuan supaya kita bisa memperoleh kebahagiaan di dalam diri kita. Karena ajaran Sang Buddha itu adalah untuk memberikan kebahagiaan di dalam batin. Sedangkan dari ilmu pengetahuan, Saudara hanya memperoleh kebahagiaan yang bersifat badaniah. Dengan ilmu pengetahuan yang Saudara miliki dan dengan agama yang Saudara hayati, Saudara akan memperoleh jalan tengah. Contohnya seperti yang digigit nyamuk tersebut di atas. Saudara akan bisa melihat jalan tengah, tidak dibunuh tetapi juga tidak dibiarkan, melainkan dengan cara diusir.

Kalau Saudara melatih sila setiap saat, maka batin Saudara akan semakin maju dan berkembang dalam ajaran Sang Buddha. Akhirnya seperti yang dikatakan oleh Sang Buddha di dalam salah satu syairnya bahwa hidup 1000 tahun itu tidak ada manfaatnya kalau kita hanya bermalas-malasan saja, kalau kita tidak mau belajar Dhamma dan hanya mengembangkan keserakahan, kebencian dan kegelapan batin. Akan lebih bermanfaat kalau kita hidup walaupun sehari tetapi dengan giat mengembangkan batin, melatih sila dan bermeditasi hingga tercapai kebijaksanaan. Itulah yang akan membuahkan kebahagiaan. Oleh karena itu, marilah kita belajar mengenal batin kita dengan melaksanakan sila; Pancasila sebagai dasar dan 8 (delapan) sila untuk pengembangan yang lebih lanjut sehingga akhirnya kita akan memperoleh kebahagiaan lahir dan batin.


[Dikutip dari Website Samaggi-Phala WWW.samaggi-phala.or.id ]

   

Artikel Buddhist

Vassa


Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Jinnadhammo Mahathera



 

Salah satu peraturan di dalam hidup kebhikkhuan adalah menjalankan Vassa. Masa vassa adalah selama 3 bulan dimulai dari bulan Asalha / Asadha hingga sampai bulan Kathina. Tahun ini jatuh pada tanggal 12 Juli sampai dengan 8 Oktober 1995.

Seorang Bhikkhu setiap satu tahun sekali menjalani Vassa selama tiga bulan berturut-turut di suatu tempat. Tempat yang sangat baik untuk melakukan Vassa adalah tempat yang sunyi dan hening di mana umat biasa (orang awam) yagn datang dan pergi sangat sedikit sehingga suasana keheningan itu terjamin. Pada masa hidup Sang Buddha di mana anggota Sangha masih berjumlah sedikit, peraturan untuk mengendalikan Sangha tidak begitu diperlukan, semua savaka (siswa) melaksanakan dan mengikuti jejak Sang Buddha dan mengetahui dengan baik ajaran Sang Buddha. Namun ketika jumlah bhikkhu makin bertambah dan tersebar di mana-mana, peraturan untuk pengendalian diri untuk para bhikkhu menjadi lebih diperlukan. Sehingga ketika itu Sang Buddha mempunyai padangan bahwa seorang bhikkhu haruslah berdiam di suatu tempat selama tiga bulan untuk berdiam diri serta merenungkan segala perbuatan yang diperbuatnnya selama satu tahun.


Pada waktu itu orang-orang zaman dahulu terbiasa untuk tidak bepergian ke mana-mana selama musim hujan karena pada saat itu jalan-jalan berlumpur dan tidak sesuai untuk melakukan perjalanan, dan lagi, banyak makhluk-makhluk kecil yang berkeliaran di tanah dan juga tumbuhan juga mulai berkembang sehingga takut terinjak dan mati. Untuk itulah Sang Buddha menetapkan sebuah peraturan bahwa bhikkhu harus menetap disuatu tempat selama musim hujan atau Vassa dan tidak pergi ke tempat-tempat lain selama masa tiga bulan tersebut.


Hari pertama untuk pelaksanaan itu disebut Vassupanayika yaitu setelah bulan purnama melewati satu hari dalam bulan Asalha (hari pertama pada bulan ke delapan) sedangkan untuk akhir masa vassa disebut Pavarana (upacara akhir vassa). Pavarana (hari penutup masa vassa berakhir) biasanya dilakukan pada tanggal lima belas. Apabila sangha tidak melakukan pavarana pada hari itu, upacara tersebut dapat ditunda dalam jangka waktu dua minggu atau satu bulan atau pada hari-hari lainnya. Jumlah bhikkhu yang menghadiri pertemuan ini sekurang-kurangnya lima orang bhikkhu. Pavarana merupakan kesempatan bagi semua bhikkhu untuk saling mengingatkan satu sama lain, mereka berkumpul dan membicarakan pelanggaran-pelanggaran satu sama lain, mereka berkumpul dan membicarakan pelanggaran-pelanggaran yang telah terjadi, sehingga berbagai pelanggaran akan segera jernih setelah diselidiki ataupun diakui dan pada kasus yang berat maka si pelanggar akan dikeluarkan dari Sangha.


Saat melakukan Vassa adalah merupakan saat untuk para bhikkgu melakukan samanadhamma yaitu dhamma untuk seseorang yang membuat dirinya damai atau pelaksanaan meditasi ketenangan atau pandangan terang.


“Bhikkhu yang telah menyepi pada tempat terpencul, yang telah menaklukan pikirannya dan memahami ajaran, menikmati kebahagiaan yang lebih dari orang lain.”
(Dhammapada 373)


“Bhikkhu yagn tenang pikirannya, tenang dalam kata-kata, dan tenang tindak tanduknya, yang telah melepaskan segala hal duniawi, sesungguhnya disebut orang yang penuh kedamaian.”
(Dhammapada 378)


Bhikkhu yang melaksanakan Vassa harus berdiam di suatu tempat tertentu yang mempunyai batas-batas tertentu sampai hari pavarana dilalui. Apabila seorang bhikkhu mempunyai urusan penting yang harus diselesaikan, bhikkhu tersebut harus mendapatkan izin untuk pergi, tetapi bhikkhu tersebut harus kembali dalam waktu tujuh hari. Apabila dalam waktu tujuh hari terlampaui maka Vassa menjadi gagal.


Beberapa hal yang menyebabkan seorang bhikkhu mendapatkan izin untuk bepergian salama masa Vassa adalah sebagai berikut:
1. Jika teman dhamma (bhikkhu dan samanera) atau ibu dan ayah sakit, maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk merawatnya.
2. Jika teman dhamma ingin lepas jubah (karena godaan seksual),  maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk memadamkan keinginan tersebut.
3. Jika terdapat beberapa tugas dari Sangha yang harus dikerjakan seperti kerusakan vihara, maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk mencari bahan guna perbaikannya. (biasanya tempat itu dipimpin oleh seorang Abbot atau pimpinan vihara dari anggota Sangha).
4. Jika donatur ingin meningkatkan kebajikan mereka (kusala) dan mengundang bhikkhu maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk mendukung keyakinan mereka.


Dari keterangan di atas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Vassa adalah pelaksanaan berdiam diri pada suatu tempat yang sunyi dan hening untuk mendapatkan kesempatan / waktu agar bebas dari kegiatan sehari-hari selama 3 bulan yang mempunyai tujuan untuk merenugnkan segala tindakannya baik ucapan maupun pikiran yang masih mencemari dirinya (kilesa), sehingga seorang bhikkhu dapat melihat kelemahan-kelemahan yang ada serta dapat memperbaikinya.


Di dalam melaksanakan Samanadhamma pada waktu Vassa adalah sangat baik untuk melaksanakan beberapa kegiatan seperti:
  1. Memperbaiki vihara
Hal ini bertujuan untuk memperbaiki sarana-asrana yang mengalami kerusakan-kerusakan di vihara seperti ruangan kebaktian, ruang meditasi, dan tempat tidur serta sarana-sarana lainnya seperti ruang perpustakaan. Kemudian memperbaiki dan memelihara tanaman-tanaman yang ada sehingga suasana vihara kelihatan bersih, indah, dan ketenangannya dapat terjamin.
  1. Pada hari Uposatha membicarakan tentang Dhamma.
Pada Uposatha dilaksanakan pada bulan purnama dan bulan gelap tangal 1, 8, 15 dan 23 pada penanggalan tahun lunar. Biasanya pada hari itu anggota sangha mengadakan suatu pertemuan untuk membicarakan tentang Dhamma dan Vinaya.
Kata Uposatha berarti “masuk untuk berdiam” yang mempunyai makan kepatuhan kepada sila (vinaya). Uposatha merupakan istilah yang dipakai untuk pelaksanaan suatu upacara keagamaan yagn ketat hubungan dengan menahan diri (puasa). Ini merupakan kebiasaan yang telah ada sebelum masa Sang Buddha, dan Sang Buddha menyetujui kebiasaan ini dan memperkenalkannya untuk dipergunakan sebagai hari pertemuan untuk membicarakan dan mendengarkan Dhamma dan merupakan kesempatan untuk pelaksanaan uposatha bagi umat (atthanga uposatha sila). Sehubungan dengan pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha mengizinkan mereka melakukan uposatha pada tanggal 1 dan 15 penanggalan lunar, artinya dua kali dalam sebulan.
Kemudian Sang Buddha memberikan izin kepada  Sangha untuk melakukan uposatha sendiri, di mana dalam setiap pertemuan suatu kelompok bhikkhu, seorang bhikkhu akan membacakan peraturan latihan yang disebut dengan Patimokkha. Ini dilakukan apabila terdapat empat orang bhikkhu atau lebih. Apabila hanya terdapat dua atau tiga bhikkhu, merka disebut gana (group). Mereka diizinkan untuk memberitahukan satu sama lain tentang kemurniaan mereka masing-masing dan bila hanya terdapat seorang bhikkhu ia disebut puggala (seseorang) dan dia harus membuat Addhittanga atau tekad oleh diri sendiri. Dalam setiap vihara (yang mempunyai Sima) harus terdapat sebuah bangunan untuk uposatha  bagi sekurang-kurangnya dua puluh satu orang bhikkhu, dan tempat ini disebut Uposathagara.
  1. Meditasi
Bertujuan untuk pandangan terang yang artinya agar seorang bhikkhu dapat merenungkan segala perbuatan serta tingkah lakunya baik melalui pikiran, ucapan serta tindak tanduknya agar terhindar dari pelanggaran-pelanggaran vinaya. Sebab di dalam kehidupannya sehari-hari tentu banyak dijumpai rintangan-rintangan maupun godaan-godaan yang datangnya baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar. Oleh sebab itulah meditasi sangat diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan serta perhatian dari segala persoalan-persoalan yagn timbul.
Pernah sekali murid Sang Buddha bertanya, “Menurut Guru, apakah cukup dengan syair-syair suci, kekuatan gaib serta ajaran Dhamma?” Lalu Sang Buddha menjawab “Tidak cukup. Seseorang mungkin menguasai syair-syair suci, lagu-lagu suci, ajaran agama, kekuatan dan tulisan gaib, tetapi jika dia tidak melakukan meditasi di dalam kehidupannya, maka di dalam dirinya tidak akan ditemukan kedamaian, seperti seseorang yagn hanya mendengarkan Dhamma melalui desas-desus, dia hidup tidak berpedoman pada Dhamma dan tidak mengetahui kehidupan abadi melalui pengalaman-pengalamannya sendiri.Sama halnya dengan seseorang yang mengajarkan Dhamma pada orang lain atau mempertimbangkan Dhamma sepanjang hari. Jika seseorang tidak melakukan meditasi, dia tidak akan mengalami hal-hal yang nyata dan tidak memiliki mata batin, mereka hidup dengan tidak berpedoman pada Dhamma dan tidak akan memperoleh penerangan pada dirinya sendiri. Demikian halnya juga dengan KEBAKTIAN, seseorang tidak akan mendapatkan serta menemukan pandangan terang dengan hanya melaksanakan KEBAKTIAN. Dia harus melakukan MEDITASI. Dengan MEDITASI keseimbangan batin dapat dijaga sehingga kebijaksanaan itu timbul dan bukan yang dibuat-buat tetapi adalah tumbuh dengan sewajarnya.


Disampaing hari uposatha, para bhikkhu juga dapat melakukan latihan-latihan (melatih diri) dalam kehidupan sehari-hari dengan belajar kepada bhikkhu-bhikkhu yang lebih senior atau sebaliknya para bhikkhu senior dapat memberikan pelajaran yang berguna kepada bhikkhu yang baru yang masih belum mantap baik oleh vinayanya maupun pengetahuan akan Dhammanya, sehingga nantinya akan diperoleh bhikkh-bhikkhu yang mempunyai disiplin yang baik dalam menjalankan vinaya yang dipegangnya.


Sebagai anggota Sangha yang dimuliakan oleh umat awam (biasa), apabila ditemukan bhikkhu yang tidak mempunyai disiplin yang baik, maka agama Buddha akhirnya akan hancur dan hal ini tentu tidak diinginkan oleh umat yang beragama Buddha. Oleh sebab itu agar agama Buddha dapat terjamin kelestariannya (kemurniannya) maka para bhikkhu anggota Sangha haruslah mencerminkan persatuan dan kesatuan, tidak saling gontok-gontokan atau saling menuding akan kesalahan yang diperbuat, tetapi adalah dengan jalan saling memberikan pengertian yang mendalam dan memahami akan kedudukan masing-masing pribadi dan menyelesaikan segala persoalan dengan keseimbangan pikiran yang baik serta dapat saling memberi maaf atas kesalahan-kesalahan yagn kecil maupun kesalah pada pelanggaran-pelanggaran yang besar. Dengan demikian agama Buddha tentu dapat berdiri dengan kokoh dan kelestariannya dapat terjamin.


Demikian juga dengan umat awam, dengan sendirinya mereka akan mengerti serta memahami akan tugas dan kewajibannya sebagai umat Buddha yagn beragama Buddha untuk mempertahankan serta menjaga kelestarian daripada agama Buddha itu sendiri.
   

Artikel Buddhist

Nilai Kehidupan


Oleh: Yang Mulia Phra Ajahn Yantra Amaro

Yang terkasih para Guru, yang mulia para Bhikkhu, Samanera, sahabat dalam Dhamma, dan Anda sekalian yang tertarik dalam melakukan kebajikan; salam hangat untuk semuanya.

Hari ini adalah kesempatan yang istimewa bagi kita semua untuk datang bersama-sama. Hal-hal baik yang kita lakukan sekarang, seperti mempersembahkan makanan dan persembahan-persembahan lainnya kepada para bhikkhu, memohon tuntunan sila, dan mendengarkan khotbah Dhamma ini, adalah suatu perbuatan baik.

Hari ini adalah tanggal 14 Januari 1990, hari keempat dari bulan yang menciut dari bulan kedua lunar, tahun Buddhis 2533. Tahun baru datang dan pergi dengan amat cepat, dan tahun lalu berlalu dengan cepat pula. Seperti halnya tahun-tahun (yang datang dan pergi), hidup kita pun berjalan dalam suatu siklus yang terus-menerus berubah dari bahagia menjadi derita, dari berhasil menjadi kecewa, dari damai menjadi gelisah, semuanya bercampur aduk bersama-sama.

Hari Tahun Baru telah berlalu. Pernahkah anda memikirkan apakah pada waktu-waktu yang telah lewat anda telah melakukan hal-hal yang berarti, atau hal-hal untuk mengembangkan dirimu sendiri? Apakah anda merasakan bertambah baik, atau apakah anda tetap merasakan hidup ini penuh dengan penderitaan, kesukaran, dan problem-problem; tanpa merasakan adanya kedamaian di dalam maupun di luar dirimu?

Marilah periksa diri kita sendiri. Hari ini saya akan memberikan khotbah Dhamma sesuai dengan tema yang telah saya sebutkan di awal khotbah ini, yaitu: Lokapatthambhika metta —cinta kasih menunjang dunia ini. Cinta kasih (metta) merupakan bagian yang amat penting untuk kita menjalani hidup kita. Sang Buddha sangat penuh dengan cinta-kasih dan kasih sayang (karuna). Beliau begitu sudi mengajarkan kita dan menasehati kita bagaimana meningkatkan kesadaran (sati) dan kebijaksanaan (panna) kita, kesetiaan dan keyakinan (saddha) kita, untuk melakukan hal-hal yang benar sehingga kita dapat memperbaiki tingkah-laku kita.

Dunia ini terdiri atas binatang, tumbuh-tumbuhan, dan banyak benda lainnya, seperti misalnya taman, sungai, udara, dan langit. Kita semua adalah bagian dari dunia yang hidup ini. Kita dilahirkan oleh orang tua kita, orang tua kita lahir dari kakek-nenek kita, dan seterusnya hingga waktu yang amat panjang, sehingga kita semua memiliki nenek-moyang di waktu yang sangat lampau, yang mempengaruhi kita hingga kini. Sebagaimana dunia ini mendukung kita dengan udaranya, tanahnya, airnya, dan sebagainya, demikian pula orang tua kita dengan hati-hati dan lembut menjaga kita setelah kita lahir, menyayangi kita, dan baik kepada kita. Jika kita menyadari jasa kebaikan yang besar dari cinta-kasih mereka, kita akan bersikap lebih baik dan menyayangi mereka pula. Cinta-kasih (metta) membawa kebahagiaan, dan dengan demikian kita harus memberikan cinta-kasih kepada orang tua kita. Hal itu akan memperluas kebajikan cinta-kasih kita kepada makhluk-makhluk lainnya, kepada teman kita dan kepada orang-orang yang kita cintai, kita kenal, dan kita hormati. Hal ini akan memperbesar cinta-kasih kita untuk meliputi setiap orang di dunia ini, sama seperti matahari yang menyinari dunia ini tanpa membeda-bedakan areal atau posisi.

Sinar dari matahari yang bersinar dengan merata kemana-mana dengan tanpa pilih kasih, adalah merupakan hal yang nyata dan alamiah dari Dhamma. Bumi menunjang kehidupan manusia dan semua kehidupan di atasnya serta memungkinkan benda-benda hidup lainnya tumbuh dan berkembang. Segala sesuatu yang kita makan dan pakai, berasal dari Bumi ini; demikian pula dengan air yang kita minum atau pakai mandi atau dipergunakan untuk tujuan-tujuan lainnya. Juga tanah, sungai, langit, udara yang kita hidup, serta energi dari matahari, semuanya berasal dari ALAM. Semua benda ini yang disediakan/diberikan oleh alam, memungkinkan kita untuk tetap hidup dan merasa bahagia dan damai.

Matahari memberi penerangan dan menyebabkan angin bertiup; sungai-sungai membuat kita merasa sejuk dan lembab. Semua benda ini membolehkan manusia dan hewan untuk mandi dan minum, serta memungkinkan tumbuh-tumbuhan dan sayur-sayuran tumbuh. Hujan turun, menyejukkan dan menyirami tumbuh-tumbuhan, lalu ia menguap dan kembali ke langit sebagai awan atau mendung, dan kemudian kembali lagi ke Bumi ketika kondisinya tepat. Siklus perubahan yang kita lihat ini mengungkapkan adanya hubungan antara benda-benda alam, yang sangat perlu untuk kelangsungan keberadaannya; tetapi pada umumnya tersembunyi dalam cinta-kasih Alam. Kita dapat melihat matahari bersinar atau hujan turun ke Bumi dengan tanpa meminta bayaran (tanpa pamrih) kepada kita. Alam hanya memberi dan memberi, sepanjang waktu.

Vihara ini terus-menerus menghasilkan atau menumpuk sampah di atas tanah dimana ia berdiri, tetapi tanah tidak pernah mengeluh. Tetapi sebaliknya ia menerima sampah tersebut dengan cinta-kasih (metta) dan keseimbangan (upekkha). Tanah tidak pernah mengeluh atau protes ketika diinjak, ditumbuk, digali atau dibor, tetapi tetap hanya memberi. Apa yang saya ungkapkan ini adalah bahwa ALAM selalu memberi. Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah yang telah kita berikan kepada dunia? Bahkan, apakah yang dapat kita berikan kepada diri kita sendiri, sebelum hidup kita ini berakhir?

Hidup adalah tidak pasti. Dengan demikian kita semua yang ada di dalam ruangan ini serta di dunia ini, harus dapat memberikan yang terbaik yang dapat kita berikan, yaitu cinta-kasih kepada semuanya. Tak seorang pun ingin menderita atau susah, tapi sebaliknya mereka ingin kebahagiaan dan kesuksesan, dan mereka ingin mencapai cita-cita/tujuan mereka. Jika kita menyadari hal ini, maka marilah kita tidak melukai ataupun menyakiti satu sama lain. Semua makhluk mencintai hidup mereka dan diri mereka, maka janganlah kita menyakiti satu sama lain. Sang Buddha mengajarkan perilaku yang baik dan bermoral (sila) untuk membentuk sikap-laku yang bermoral di dunia ini.

Perhatikan dengan seksama apa yang telah saya katakan, tetapi jangan cepat-cepat mempercayainya sampai anda menyelidikinya dengan seksama berulang-ulang kali. Sekali anda telah dapat mengalaminya sendiri, maka anda dapat mempercayainya. Ajaran Sang Buddha adalah suatu Kebenaran, tetapi anda mesti mengalaminya sendiri untuk membuktikannya. Bila kita telah melakukan hal ini, cinta-kasih akan menciptakan kebaikan (kusala) di dalam diri kita. Maka kemudian kita tak akan melukai atau membunuh makhluk/orang lain, juga tidak mencuri dari mereka, dan bahkan kita tidak akan berpikir untuk melakukan hal tersebut. Bila kita dipenuhi oleh pikiran-pikiran baik dan cinta-kasih, maka kita tak akan pernah berbuat salah, juga tak melakukan perzinahan.

Apabila kita memperhatikan perbuatan melalui ucapan (menghindari kebohongan, kata-kata yang tidak baik dan kasar, serta obrolan kosong), jika kita memiliki kebaikan cinta-kasih (kusala-metta), kita tak akan pernah berkata kasar, sindiran, ataupun ucapan yang menghina, ataupun bergosip. Kita akan menghindari ucapan/kata-kata seperti itu secara total. Bila kita dikaruniai oleh Dhamma, perbuatan jasmani dan ucapan akan dikendalikan oleh kebajikan moral (sila). Kebajikan moral hadir di dalam setiap orang yang duduk dengan tenang di sini. Ketika pikiran anda tenang dan damai, perbuatan jasmani dan ucapan anda akan baik, apakah sebelum atau sesudahnya anda mengucapkan Pancasila (sila-sila) atau tidak. Tetapi saya tidak dapat menjamin kebajikan moral tersebut akan tetap ada bersama anda setelah anda meninggalkan tempat ini.

Ketika kita diam dan tenang, yakni ketika kita mempunyai kebajikan moral, ia secara alamiah akan muncul di dalam diri setiap orang. Pada saat ini, ketika kita normal, tenang, dan damai, itu adalah kebajikan (kusala). Hal itu bukanlah melampaui kemampuan kita untuk mempraktekkannya dalam mencapai kebenaran. Sifat-sifat murni di dalam diri kita masing-masing ini adalah mudah ditembus dan dipahami. Sang Buddha menyebut hal ini sebagai SILAM, kenormalan. Orang yang normal adalah tenang dan damai di dalam perbuatan jasmani, pikiran, dan ucapannya. Orang yang tidak normal adalah gelisah dan tiada kedamaian di dalam jasmani, pikiran, dan ucapannya.

Kegelisahan adalah tidak normal, dan apapun yang menyebabkan batin menderita akan menyebabkan jasmani menderita pula. Anda dapat memperhatikan hal tersebut. Bila seseorang sedang marah atau serakah, mata mereka menjadi makin lebar, dan berubah menjadi hijau atau merah. Bila seseorang sedang terpedaya, mata mereka akan kelihatan aneh, seolah-olah sesuatu sedang menutupinya sehingga mereka tak dapat melihat dengan semestinya; dengan demikian mereka salah mengerti. Apapun yang coba mereka lakukan, cenderung menjadi salah, dan bila mereka berbicara, kata-kata yang tak benar akan keluar tanpa sengaja. Batin mereka dipenuhi oleh kekotoran/noda (kilesa). Maka oleh karena itu, Sang Buddha menyarankan kita untuk selalu menjaga batin/pikiran kita, agar selalu sadar (sati) pada saat sekarang. Dengan kesadaran sedemikian, kita dapat mengontrol diri kita sendiri, perbuatan-perbuatan kita, ucapan-ucapan kita, dan pikiran-pikiran kita, yang harus dengan hati-hati kita awasi. Ingatlah dengan tugas kita, bahwa dengan dilahirkan, kita harus memikirkan orang lainnya dan berusaha untuk mengerti apa yang kita lakukan, dan lakukanlah sebaik-baiknya. Berusahalah untuk melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan.

Siapapun juga mempunyai suatu tugas untuk dilakukan, misalnya berdana atau bermurah-hati, lakukan itu dengan usaha terbaikmu. Itu adalah kewajiban sehari-hari untuk engkau lakukan. Jika anda adalah orang tua, jadilah orang tua yang baik. Anda tentu tahu apa artinya itu, yaitu menjaga dan merawat anak-anak anda, mendukung dan membimbing mereka pada jalan yang benar, jalan yang terang, jelas, dan penuh dengan kebajikan (sila-dhamma). Bimbing mereka kepada terangnya jalan Dhamma. Ajarkanlah Dhamma kepada anak-anakmu.

Sebagai anak, kalian harus menjadi keturunan yang terbaik dari orang tuamu, dengan tidak menyebabkan orang tuamu susah, cemas, atau kecewa terhadap kelakuanmu; dengan tidak malas, tetapi dengan membantu mereka bilamana diperlukan. Para guru, kalian harus melakukan yang terbaik untuk murid-muridmu, dengan mencintai mereka, baik kepada mereka, membimbing mereka dengan memberi petunjuk pada mereka jalan yang benar. Para murid, kalian harus melakukan yang terbaik untuk membuat guru kalian gembira, dengan bersikap-laku yang baik, dengan berlaku sesuai dengan Dhamma yang baik yang diajarkan oleh gurumu. Ini adalah tugas-tugas kalian.

Benda-benda alam juga mempunyai tugas mereka masing-masing. Sesuatu yang lahir tanpa tugas/kewajiban, tidak memiliki Dhamma. Jika orang tua tidak melakukan kewajiban mereka, misalnya jika mereka mengakibatkan anak-anaknya dan membiarkan mereka melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan, orang tua demikian bukanlah manusia yang patut dihormati. Bahkan binatang pun mencintai anak-anak mereka. Beberapa orang tua mengabaikan anak-anaknya dan tidak sepantasnya disebut manusia. Mereka hanya berwujud/tampak sebagai manusia, tetapi di dalamnya kita tidak tahu mereka itu sebagai apa. Mereka mungkin saja hantu, raksasa, atau setan/iblis (mara). Saya belum pernah melihat hantu atau raksasa sungguhan, tetapi saya telah pernah melihat setan/iblis di dalam hati manusia; setan dari keserakahan, setan kekhayalan, kekejaman, dendam, dan kemarahan. Setan jenis ini adalah lebih berbahaya daripada setan sungguhan. Saya belum pernah mendengar setan/hantu yang menakut-nakuti atau memperdaya manusia lainnya.

Hampir setiap hari hal semacam ini terjadi, muncul diberitakan di koran-koran. Kadang-kadang hal itu terjadi langsung kepada dirimu, kamu tak perlu membacanya di koran. Kadang-kadang kakak adik saling memaki atau menyumpah-nyumpah, dan bila setan ini telah merasuk, mereka menjadi sangat marah dan salah mengerti satu dengan lainnya. Saya menyebut setan jenis ini adalah setan dari pikiran, misalnya setan kilesa, setan yang mengerikan, setan kemarahan, atau setan kemalasan, dan saya tak ingin bertemu dengan mereka semua. Saya nasehatkan anda untuk berusaha menghindari mereka pula.

Terdapat cara untuk melindungi dirimu sendiri dari setan-setan ini, yakni: Lakukan Kebajikan, maka setan akan takut. Berucaplah dengan benar, maka setan akan takut. Sebaliknya bila berpikir jahat, maka anda akan dimakan oleh setan. Ini adalah metode yang sederhana. Lakukan seperti apa yang saya katakan, yaitu berpikir atau berkata yang baik dengan penuh cinta-kasih, kebajikan, dan kasih sayang. Maafkan dan lupakan, serta berusahalah untuk menolong orang lain. Jika engkau lakukan itu, setan-setan akan takut kepadamu dan, hati dan pikiranmu akan menjadi benar dan baik. Setan-setan tidak menyukai kebajikan, dengan demikian mereka harus pergi. Jika kebajikan berlalu dari diri kita, setan-setan akan kembali. Jadi kita harus tetap mempunyai kebajikan di dalam hati kita, dan berpikir tentang kebajikan Sang Buddha. Sang Buddha penuh dengan kesabaran, toleransi, kebijaksanaan, dan kebajikan kepada semua makhluk hidup, terutama makhluk manusia; dan dengan tanpa lelah memberikan cinta-kasih-Nya yang murni, Kasih-sayang dan Pengetahuan tertinggi dari Dhamma. Setelah mencapai Pencerahan, Beliau menyalakan lampu/cahaya yang terang untuk membimbing orang-orang di seluruh dunia, dan untuk membangkitkan cahaya di dalam hati manusia. Pada khususnya, mereka yang memiliki debu di matanya, tidak dapat melihat cahaya hidup dengan baik, tetapi jika mereka mengikuti jejak Sang Buddha, mereka akan melihat jalan untuk menjalani hidup mereka, jalan untuk mencapai kesempurnaan, kedamaian, dan kebahagiaan. Itu tergantung dari apakah mereka/kita melaksanakan ajaran-ajaran-Nya atau tidak.

Hidup kita secara berangsur-angsur memburuk sepanjang waktu. Tahun demi tahun berlalu dan tahun yang baru datang dengan cepat, usia kita bertambah tua, dan sisa usia hidup kita tinggal semakin sedikit. Anak-anak tumbuh dan menjadi remaja, dan kemudian menjadi pria atau wanita tua.

Saya pun semakin menua. Tiada seorang pun dari kita yang akan menjadi makin muda. Kita semua menjadi makin tua dan loyo. Suatu saat kita mesti meninggalkan semuanya. Sebagian orang dapat menerima hal itu dan berusaha melakukan yang terbaik yang dapat mereka lakukan sebelum hidup berakhir. Seperti kita makin berkurang, tetapi apa yang bisa kita dapatkan/hasilkan dari itu (berkurangnya hidup kita itu)? Hidup yang masih tersisa untuk kita terus berkurang, lebur bersama berlalunya sang waktu dan kejadian-kejadian setiap hari. Apakah kita (telah) menghasilkan hal-hal yang bermanfaat atau berguna? Apakah akan ada suatu kebajikan, kedamaian, atau keteduhan di dunia untuk generasi yang akan datang?

Dhamma yang diyakini dan dianut oleh orang-orang adalah yang paling terpuji dari semua ajaran. Setelah anda membersihkan diri anda dari semua noda dan menemukan pencerahan yang besar, kebajikan, ketenangan, kedamaian, dan mencapai kesejukan, yang memberimu pikiran yang murni dan perasaan yang ringan dan damai.

Ini adalah pencapaian tertinggi dari makhluk manusia. Kita semua seharusnya mewariskan paling sedikit satu hal manis/berarti di dunia ini. Cobalah tanyakan dirimu sendiri, apa yang dapat engkau wariskan? Meskipun kita tidak memiliki sesuatu yang lebih berarti dibandingkan dengan Sang Buddha atau orang-orang suci lainnya, cobalah temukan sesuatu yang berarti atau bermanfaat untuk menghasilkan kebahagiaan bagi dirimu sendiri di dalam hidup ini. Jangan menyiksa diri dengan hidup dalam kegelisahan atau kebingungan di sepanjang hidupmu.

Saya yakin bahwa seseorang tidak berusaha untuk mengerti dan melaksanakan Dhamma, maka meskipun ia memiliki kekayaan, kedudukan, kehormatan, ketenaran, dan sebagainya —singkatnya: kebahagiaan duniawi— ia tetap akan merasa tidak bahagia, susah, dan gelisah di dalam hati.

Tidak ada kebahagiaan yang nyata, kecuali jika kita memiliki Dhamma dan kedamaian di dalam diri; bila tidak, itu adalah kebahagiaan yang palsu/semu. Saya akan menyebutnya sebagai kebahagiaan yang dibungkus penderitaan, atau kebahagiaan bohong-bohongan. Ada kebahagiaan karena makan (kin), melakukan hubungan sex (kam), dan memiliki ketenaran (kiat), karena kesenangan sementara dari suara/bunyi, bebauan, rasa kecapan, rasa sentuhan, dan emosi. Itu adalah kebahagiaan dari kesenangan duniawi, yang disebut ekses/variasi ("suk"), yang berbeda dari kebahagiaan sejati ("sukh"). "Suk" berarti memasak/matang, tetapi "sukh" adalah kebahagiaan yang datang dari Dhamma, kebahagiaan yang datang dari cinta kasih, dari kasih sayang, dari rasa simpati, dan dari keseimbangan. Itu adalah kebahagiaan yang datang dari pandangan terang dan kebijaksanaan kita sendiri.

Saya tidak menyangkal bahwa terdapat kesenangan dalam bekerja untuk mendapatkan uang, memiliki uang, dan membelanjakannya. Itu adalah perbuatan yang benar untuk dilakukan, dan saya tidak anti/menentangnya. Tetapi kekayaan semacam itu adalah tidak kekal. Dhamma mengajarkan bahwa hal-hal duniawi terjadi secara berpasangan: bila sesuatu terlahir, maka ia akan mengalami kematian; apapun yang kita miliki, akan hilang; apapun yang berjumpa akan berpisah. Tak suatu pun yang tetap. Suatu hari kita akan meninggalkan semuanya. Kematian adalah hal yang pasti terjadi. Tapi dalam pada itu, kita tetap membutuhkan benda-benda duniawi, karena kita adalah manusia biasa/awam. Kita tetap harus bekerja untuk mendapatkan uang, untuk meraih kemakmuran, keberuntungan, kekuasaan, dan ketenaran. Tak ada salahnya jika kita bekerja untuk memperoleh hal-hal tersebut, tetapi jangan sampai dikelabui oleh mereka. Cobalah mengertikan ketidak-kekalan mereka, dan kemudian lepaskan (jangan melekat). Ketahuilah bahwa pada akhirnya, suami tercinta kita, istri, anak-anak, dan kekayaan kita akan berubah.

Sang Buddha bersabda "Sabbe sankhara anicca": semua benda yang terbuat dari benda-benda lain yang mendahuluinya, adalah berakhir dengan ketidakkekalan. Beliau bersabda: "Sabbe sankhara dukkha": semua kondisi adalah bentuk dari penderitaan dan ketidakpuasan. Tak ada suatu apapun sebagai kebahagiaan yang abadi, tetapi terdapat penderitaan di dalam hidup ini. Bila kita merasa sakit pada kaki kiri, kita mengubah posisi kita, sehingga kaki kanan yang menggantikannya. Bila kita duduk, mula-mula kita duduk dengan tegak, tetapi tidak berapa lama kita mulai terkulai/melengkung. Ketika kita menyadarinya, kita menegakkan lagi badan kita, tetapi tak lama kemudian kita terkulai lagi. Suatu hari kita akan terkulai/merosot turun dan tak mampu lagi menegakkan diri kita. Kematian pun semakin mendekat. Apakah batin kita sudah siap menerima hal itu? Apakah kita pernah memikirkan bahwa suatu hari kita akan mati? Suatu hari kita harus meninggalkan anak-anak tercinta kita, istri atau suami kita, dan sahabat-sahabat kita. Jika kita memiliki Dhamma sebagai tempat berpegang dan menjadi pelindung kita; yakni perbuatan-perbuatan baik, kedamaian, ketenangan, dan kebebasan dari noda-noda, maka kita tidak akan cemas ketika kita pergi/mati. Kita akan pergi dengan damai dan puas, karena kita selalu melakukan perbuatan baik dengan cinta kasih, dan itu akan memberikan kita kebijaksanaan untuk melewati penderitaan. Kita akan bahagia sewaktu masih hidup, dan akan bahagia serta siap ketika kita akan mati. Jadi, perbuatan-perbuatan baik (kusala-kamma) memberikan kita kebahagiaan yang kekal/abadi.

Kita mesti tak boleh menyerah, tetapi berusahalah untuk berhasil.
Batin yang tajam, mengetahui terdapat sebab dari setiap perbuatan;
Kembangkan kebajikan dan berpikirlah dengan penuh perhatian.
Dan kemudian lepaskan ketika lagi tenang dan sadar.
Kita dapat membebaskan diri kita dari karma buruk kita.
Dan membawa diri kita kepada kebahagiaan dalam Dhamma.
Kita dapat hidup berdampingan dengan penderitaan, tetapi tidak merasa menderita.
Mengalami usia tua, merupakan sahabat kita.
Kesakitan dan kematian tak lagi membuat kita cemas.
Pada akhirnya kita akan hidup menyatu dengan Dhamma.

Dengan mengingat ketidakkekalan dan bagaimana benda-benda selalu berubah; kekayaan/kemakmuran dapat menjadi kemiskinan, ketenaran menjadi tidak dikenal, kekuasaan menjadi ketidakberdayaan. Dhamma mengajarkan kita bahwa perubahan-perubahan ini adalah alamiah/wajar.

Sang Buddha mengajarkan kita untuk selalu sadar dan waspada (sati), dalam memeriksa benda-benda atau hal-hal dengan hati-hati hingga kita dapat melihat mereka sebagaimana mereka adanya, dan tidak terganggu ketika hal-hal yang tidak menguntungkan itu terjadi. Kita dapat melihat di atas kepicikan, mendengar di atas bujukan, dan bila kita dipuji kita tidak terlambung seperti balon yang menggelembung. Balon melambung tinggi hingga suatu saat ia mengempis dan meluncur turun —seperti bila kita disalahkan. Satu waktu kita bangkit, saat lain jatuh; naik-turun; besar-kecil; terang-gelap; merasa enak-tidak enak; manusiawi-tidak manusiawi. Pikiran kita selalu seperti itu.

Sang Buddha berusaha mengajarkan kita untuk menjadi sadar (sati) dan memperlihatkan cinta-kasih (metta). Hari ini saya memberi penekanan pada Metta, karena itu sangat penting. Bila kita mempunyai cinta-kasih di hati, kita merasa tenang dan tentram. Selalulah bersedia untuk mendoakan setiap orang dan setiap makhluk agar hidup tentram, sejahtera, dan bahagia, serta mengembangkan kebajikan anda melalui jasmani dan ucapan. Orang yang baik hati selalu sopan, ramah dan halus budi bahasanya, dan ini membuatnya mudah bagi arus cinta-kasih mengalir keluar dari diri mereka. Cobalah berusaha untuk selalu menjadi seperti itu.

Orang yang baik adalah ramah dan lembut, tidak kasar, kaku, atau keras, dan berusaha menjadi baik serta membantu semua makhluk. Bahkan kepada orang yang tidak menyukai kita dan ingin menyakiti kita, kita juga harus selalu memberikan cinta-kasih. Adalah mudah untuk bersikap baik/manis kepada orang yang baik dan disayang. Bagaimanapun, jika seseorang sedang gelisah atau marah, kita cenderung akan seperti itu pula, dan kemudian kita menderita pula. Berusahalah untuk memaklumi dan melihat benda-benda sealamiah yang dapat engkau lakukan. Suatu cara untuk memelihara dan mempertahankan cinta-kasih di dalam hati adalah dengan selalu sadar (sati) dan mengingat: Tiga Karakteristik (Tilakkhana) atau Tiga tanda dari makhluk, yang juga disebut Karakteristik yang Lazim, yakni: Ketidakkekalan (aniccata); keadaan penderitaan (dukkhata); dan tanpa-aku/diri (anattata). "Sabbe dhamma anatta": Tiada suatu apapun yang tetap permanen atau kokoh. Kita tidak dapat memaksa jasmani kita sendiri untuk melakukan apa yang tak dapat mereka lakukan. Lalu mengapa anda ingin mengendalikan orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan ini atau itu, tidak berucap seperti ini atau itu? Jika kita tak dapat mengendalikan diri kita sendiri, jangan coba-coba untuk menyuruh orang-orang melakukan apa yang harus mereka lakukan dan bagaimana seharusnya mereka bersikaplaku. Kita seharusnya memperhatikan atau mengurus urusan kita sendiri dan mengembangkan kebajikan kita sendiri. Fenomena/kejadian yang di luar bergantung pada kondisi dan faktor alam, tetapi yang di dalam diri kita, kita dapat mengarahkan pikiran kita untuk menjadi tidak menderita atau cemas. Berusahalah untuk menolong orang lain sebanyak yang mungkin anda lakukan dengan menggunakan cinta-kasihmu. Jika kita benar-benar tenang, orang yang tak menyenangkan mungkin bisa menjadi baik, dan mereka yang sedang dalam kesulitan akan menjadi lebih tenang. Kabanyakan atau sebagian besar dari waktu, kita tidak cukup dapat melepas dan bila orang-orang lain marah kita menjadi ikut marah pula; ketika mereka menyumpah-nyumpah atau memaki-maki, kita ikut menyumpah-nyumpah atau memaki-maki balik, dan menjadi semakin sengit terhadap satu sama lain. Panasnya kemarahan melukai kita pertama sebelum melukai orang lain. Ketika orang lain marah, kita tak seharusnya ikut menjadi marah. Siapa yang paling menderita? Mereka yang marahlah yang paling menderita.

Bila anda memberikan saya makanan dan saya tidak memakannya, ia akan tetap tak tersentuh, dan jika anda tidak "merelakannya", itu akan membebanimu untuk membawanya pulang, bukankah demikian? Demikian juga jika anda memberikan saya sesuatu dan saya tidak menerimanya, jika anda memaki saya saya mengabaikan kata-katamu. Jika kita mengabaikan kata-kata buruk dan orang-orang yang tidak memuaskan, berapa lama mereka dapat bertahan/tetap marah? Jika seseorang terus-menerus memaki kita, rahangnya pada akhirnya akan sakit, dan ia pun akan berhenti.

Jangan meladeni kemarahan. Janganlah memberi perhatian dan engkau tak akan menderita. Berkonsentrasilah pada kebajikan cinta-kasih dan kasih-sayang Sang Buddha terhadap semua makhluk. Jika kita mulai merasa akan marah, cobalah untuk merenungkan kata "Bud-dho", yang berarti "sadar", "mengerti", "seseorang yang tanpa noda (kilesa)", atau "Yang Maha Sempurna" (Sang Buddha). Berusahalah untuk menenangkan pikiranmu, hormatilah Sang Buddha, kemudian duduk dan bermeditasilah. Praktekkan meditasi cinta-kasih setiap hari sebelum anda pergi tidur atau pada saat bangun pagi. Anda akan berangsur-angsur menjadi orang yang baik, dan kemarahan serta keinginan untuk balas dendam yang biasanya mengisi batinmu akan berkurang dan akhirnya lenyap. Maafkan mereka yang biasa anda murkai/marahi, dan berusahalah untuk melihat sisi buruk dari akibat marah.

Sang Buddha berkata, "Ketika seseorang (menjadi) marah, dia telah (menjadi) bodoh, dan jika kita menjadi marah juga, kita adalah menjadi double bodoh". Dengarkan baik-baik. Ketika seseorang menjadi marah, mereka telah menjadi tidak bahagia, dan bila balik marah kepada mereka, hanya menambah banyak ketidakbahagiaan. Setiap saat kita marah, kita membakar diri kita. Kita tidak usah atau tidak perlu marah. Sekali waktu seseorang menyarankan bahwa bila kita marah, kita harus melakukan meditasi cinta-kasih. Tetapi kadang-kadang adalah tidak mungkin melakukan hal ini ketika kita sangat marah. Pikiran-pikiran cinta-kasih menghilang (lenyap) pada saat ini. Jadi apa yang dapat kita lakukan adalah mengumpulkan kesadaran (sati) kita dan mengendalikan tindakan jasmani dan ucapan kita dengan pikiran yang bermoral (sila), sehingga meskipun di dalam kita masih mendidih, minimal kita dapat menyetop keakuan yang di luar.

Jika orang-orang menunjukkan sikap-laku buruk, misalnya, anak-anak anda bandel, atau tidak memuaskan, atau iri-hati, atau menyakitkan hati, atau tidak menghormatimu, itu tidak akan menjadi masalah bagimu jika engkau memiliki kesadaran dan berusaha mengendalikan dirimu, serta mengetahui dengan perhatian-murni (kesadaran) keadaan saat ini. Ini amatlah penting. Kebanyakan dari kesukaran atau masalah kita disebabkan oleh ketidakmampuan kita dalam mengendalikan diri kita. Seluruh dunia mempunyai masalah karena kita tak dapat mengendalikan diri kita sendiri. Bahkan meskipun kita mengaku kita seorang Buddhis dan mencoba mengikuti jejak Sang Buddha dan berusaha untuk tidak marah, kita tetap menjadi marah. Saya menyuruh diri saya sendiri untuk tidak lekas marah dan tidak lekas naik darah, tetapi saya tetap begitu. Jika kita tidak berusaha keras untuk mengendalikan diri kita, kita akhirnya akan menjadi orang yang menimbulkan masalah. Akhirnya itu menjadi suatu kebiasaan, dan kita menimbun semakin banyak kekotoran batin (kilesa).

Sebagian orang menuruti kehendaknya sendiri, misalnya orang tua yang memberikan kebebasan total kepada anak-anaknya bergaul bersama teman-temannya, memberikan anak-anak mereka apa saja yang diinginkan. Mereka tumbuh menjadi anak yang manja, dan bila seseorang mencampuri keinginannya, atau ia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, ia akan merasa kecewa dan menderita. Jadi kita harus mengendalikan, menyelidiki, dan memeriksa diri kita sendiri, dan kemudian berusaha untuk melenyapkan kekotoran batin. Cobalah dan kurangi tidur, cobalah dan kurangi makan (hanya sebanyak yang engkau perlukan untuk hidup), cobalah dan kurangi bicara, serta perbanyak latihan. Berkorban lebih banyak, dan kembangkan lebih banyak cinta kasih dan belas kasihan. Jika ada sesuatu yang dapat kita berikan, berikanlah. Jika ada sesuatu yang dapat kita lepaskan, lepaskanlah ia. Berkorban adalah hal yang mulia untuk dilakukan. Ia membantu meringankan batin kita dan membawa kepada persahabatan yang lebih awet/kekal. Dunia akan selamat jika kita mendukungnya dan bermurah-hati satu sama lain serta menghentikan kebencian dan keakuan/keegoisan.

Dalam pengertian yang sesungguhnya, tidak ada yang disebut orang Indian, Thai, China, Barat, atau Lao, tetapi hanya teman atau sesama yang sama-sama berbagi penderitaan dalam kelahiran, usia tua, kesakitan, dan kematian. Setiap orang ingin sekali bebas dari penderitaan. Orang-orang Barat bertanya kepada saya, "Agamamu apa?" Saya jawab, "Agama saya adalah cinta-kasih, belas-kasihan, dan memahami orang lain". Saya juga berusaha untuk mengerti fenomena alam, karena bila kita benar-benar mengerti dengan jelas kita tidak akan menggenggam kepada segala sesuatu dengan kuat, tetapi hanya membiarkan hal-hal terjadi sesuai dengan keadaan mereka.

Kita harus mengembangkan cinta kasih kita sebelum kita berangkat tidur dan ketika bangun pagi, untuk memberikan kita fondasi yang mantap untuk hidup kita. Cobalah kalian semua, sebelum berangkat tidur dan hal pertama ketika terjaga/bangun pagi, menghormatlah kepada Sang Buddha dan renungkanlah akan kesempurnaan kebajikan Beliau; kepada Ajaran-Nya yang menuntun kita kepada kesucian; kemudian kepada Sangha, para bhikkhu yang meneruskan ajaran Sang Buddha. Kemudian renungkanlah cinta-kasih orang tua kita dan guru-guru kita terhadap kita —cobalah berkonsentrasi dan berpikir dengan dalam di dalam hati. Bercita-citalah untuk menjadi baik dan penuh cinta dan kasihan kepada semua makhluk hidup. Kemudian renungkan "Bud-dho" di dalam hatimu, dengan setiap nafas yang masuk dan keluar. Berusahalah menarik nafas dalam yang panjang dan perlahan, dan menghembuskan nafas yang panjang dan perlahan. Marilah kita mencoba dan melakukannya.

Pada orang-orang yang mempunyai semangat tinggi, batinnya diperkaya dengan kegairahan (piti) dan dengan kesetiaan dan keyakinan (saddha), dengan demikian cinta-kasih meningkatkan kemampuan untuk bekerja lebih baik dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan. Itulah yang Sang Buddha lakukan untuk meneruskan mengajar tanpa lelah hingga Beliau meninggal dalam Parinibbana. Beliau tidak pernah dibayar dari mengajar, Beliau lakukan itu dengan cuma-cuma (gratis). Beliau tidak mengajar untuk mencari kekayaan, kedudukan, kekuasaan, penghargaan, atau nama/ketenaran, karena Beliau tidak memiliki kekotoran batin (kilesa) lagi. Pemberian-Nya adalah pemberian yang murni, seperti aliran sungai yang mengalir terus-menerus dari sumber air, yang lebih kuat daripada arus manapun di dunia ini; seperti lautan yang tak pernah kering, seperti cahaya yang bersinar sepanjang waktu dan lebih kuat dari sinar Sang Fajar. Beberapa aliran sungai mengering pada suatu waktu, tetapi cinta-kasih dan kasih-sayang Sang Buddha tidak pernah kering, meskipun ia menyebar jauh dan luas. Aliran-aliran sungai di dunia hanya dapat mengalir pada tempat-tempat tertentu, tetapi cinta kasih Sang Buddha mengalir di mana-mana. Beliau senantiasa memaafkan mereka yang jahat, dan kepada mereka yang miskin Beliau memberikan cinta kasih yang tak terbatas.

Adalah suatu kisah tentang Devadatta, saudara sepupu Sang Buddha. Devadatta ingin membunuh Sang Buddha dan mengambil alih tempat-Nya, tetapi tidak berhasil ia lakukan. Biarpun demikian, Sang Buddha memaafkannya dengan cinta kasih-Nya, seolah-olah Devadatta adalah anak-Nya sendiri (Rahula). Berapa banyakkah orang yang dapat melakukan hal tersebut? Adalah suatu hal yang sangat sulit. Adalah mudah memberi kepada orang yang manis yang kita cintai, tetapi sangat sulit untuk memberi kepada orang yang tidak kita senangi —batin dan jiwa/semangat kita tidak cukup besar untuk itu. Sang Buddha selalu penuh dengan cinta kasih dan kasih sayang serta memaafkan dengan hati-Nya yang penuh cinta yang murni.

Marilah kita memikirkan semua makhluk yang lahir di dunia ini yang sama-sama berbagi dalam kelahiran, usia tua, kesakitan, dan kematian. Jika seseorang telah melakukan suatu kesalahan atau kekeliruan, itu adalah disebabkan karena karma sedang berbuah. Itulah mengapa dia tidak dapat melihat atau bertindak dengan semestinya. Cobalah maafkan dia, dengan mengerti bahwa pada dasarnya setiap orang adalah baik dan berusaha untuk menjadi baik, tetapi kekotoran batinnya (kilesa) mencegahnya untuk menunjukkan sifat baik alamiahnya. Maka, seharusnyalah dia dimaafkan.

Hari ini kalian datang untuk memberikan persembahan (dana). Bila anda pulang ke rumah, cobalah berniat untuk memaafkan setiap orang dan setiap makhluk, serta mengembangkan cinta-kasih dan kasih-sayangmu lebih banyak lagi. Berniatlah untuk memberikan sesuatu yang belum pernah engkau berikan sebelumnya. Coba perhatikan seekor ular —ketika ia berganti kulit dan melepaskan kulitnya, ia tumbuh makin besar. Demikian pula sama dengan kita, jika engkau perhatikan dengan seksama, engkau akan melihat bahwa kita melepaskan lapisan paling luar dari kulit kita setiap pagi. Juga sebuah pohon, setelah ia menggugurkan daun-daunnya, tumbuhlah daun-daun yang baru. Pernahkah engkau melihat tanaman anggur? Apabila petani ingin ia tumbuh dengan baik, petani harus memangkasnya, maka kemudian ia memproduksi tandan-tandan anggur yang baru dengan amat lebat dan cepatnya. Semakin pelit anda, semakin kecil dan pendeklah anda tumbuh; sebaliknya, semakin memenangkan persahabatan dan kebahagiaan. Pernahkah anda merasa lebih bahagia dibandingkan setelah anda memberikan sesuatu?


BUNGA DI DALAM HATI

Apakah tidak benar bahwa bila kita melakukan perbuatan berjasa, kita merasa bersemangat (piti)? Kita merasa sangat bahagia, seperti bila kita memegang sekuntum bunga yang harum semerbak atau bila kita membawa bunga melati dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha. Jika kita menaruh bunga-bunga ini di dalam kamar, kamar menjadi harum, tetapi hanya saya sendiri yang menikmatinya. Akan tetapi, jika saya menaruhnya di depan altar Sang Buddha, setiap orang dapat mencium bau harumnya dan berbagi rasa di dalam kegembiraan/kebahagiaan, dan jika terdapat cukup bunga untuk ditaruh di sekelilingnya, saya juga akan melakukannya. Tidak menjadi masalah memang, apabila saya menyimpan semua bunga untuk diri saya sendiri, tetapi itu tidak memberikan kegembiraan/kebahagiaan sebanyak apabila ia dibagi-bagikan. Namun jika saya memberikan satu untuk setiap orang dari kalian, maka tiap-tiap bunga akan mekar di dalam hatimu, dan bila saya berjumpa lagi denganmu —setelah bunga yang sesungguhnya telah lama layu— bunga di dalam hatimu akan tetap segar dan harum semerbak. Setiap saat kita bertemu, kita akan ingat bahwa sekali waktu saya pernah memberimu bunga, dan akan mengingat bunga yang harum. Ini bukan berarti bahwa bila anda memberi saya bunga, maka anda akan menerima bunga pula sebagai balasannya. Semua itu berarti bahwa menyimpan sekuntum bunga untuk diri sendiri adalah sangat terbatas dan sempit. Jika kita membagi bunga-bunga tersebut untuk yang lainnya, ini akan memperbesar pahalanya. Bunga yang sesungguhnya tidak dapat bertahan lama dan akan layu hanya dalam beberapa hari, tetapi bunga di dalam hati dan kebajikan yang kita bagi kepada yang lainnya, memiliki arti atau nilai yang lebih dalam dan bertahan lebih lama.

Pada zaman dahulu kala, seorang bijaksana bertanya, "Jika kita hanya memiliki seekor ikan, bagaimanakah cara kita untuk membuatnya bertahan lama?" Seandainya anda pergi ke sebuah pasar desa dan membeli seekor ikan. Desa itu memiliki 7 buah rumah yang berdekatan. Bagaimanakah caranya agar kita semua dapat menikmati ikan tersebut dan juga membuatnya bertahan lama? Beberapa orang menjawab agar diasinkan, ada yang mengatakan agar dikeringkan, ada yang mengatakan diasapi, dan lain-lain. Saya tidak yakin bahwa cara-cara tersebut dapat membuatnya bertahan lama. Kita harus memasaknya dan kemudian membaginya kepada semua tetangga. Apabila kita memiliki lebih daripada yang mereka miliki, kita harus memberikannya kepada mereka. Bahkan jika mereka tidak pernah membalas pemberian kita, kita seharusnya tetap memberi kepada mereka, karena siapakah yang betah/tahan untuk terus-menerus menjadi di penerima saja?

Jika kita memberikan makanan kepada tetangga, belakangan kita mungkin akan menerima balasan berupa makanan yang lebih enak atau yang berbeda dalam rasa, atau variasi yang lebih besar, akibat dari pemberian kita. Sang Buddha berkata, jika engkau memberikan orang lain kebahagiaan, maka kebahagiaan akan berbalik kepada anda. Bila kita mencintai atau baik kepada orang lain, kita akan bahagia nantinya (sebagai balasannya). Pikiran yang selalu berkeinginan untuk memberi adalah lebih bahagia daripada pikiran yang berkeinginan untuk menerima. Kita mendapatkan yang sama bila kita hanya berpikir untuk memberi.

Bila anda memutuskan untuk membuat persembahan atau pemberian pada hari ini, anda memulainya dengan keyakinan (saddha), kemudian merasa senang/gembira (piti) ketika anda melakukannya. Kebajikan (punnya) telah dimulai sebelum anda tiba di sini. Ia dimulai sejak anda menyiapkan nasi dan menaruhnya di dalam nasi, dengan saus, sayur-sayuran, dan lain-lain. Rasa gembira (piti) sudah dimulai ketika anda mulai berpikir untuk mempersembahkan dana, dan berlanjut ketika anda mempersiapkannya, dan makin berkembang setelah anda mempersembahkannya. Kebajikan (kusala) menghidupi/merawat kita sepanjang waktu, khususnya bila kita melakukannya dengan tindakan yang murni, ucapan murni, dan pikiran murni (seperti misalnya tidak mencuri atau membunuh dalam membuat persembahan (dana). Persembahan dana adalah pemberian yang murni. Ia menimbulkan kegairahan (piti) pada diri si pemberi, dan setelah itu diberikan, tidak menimbulkan kecemasan.

Sebagian dari kalian, sesudah memberikan hadiah, terus merasa kuatir, "Saya kuatir apakah ia akan memberiku hadiah sebagai balasannya pula?" Beberapa orang mengharap lebih banyak dapat memperoleh balasan daripada yang telah ia berikan; misalnya memberi persembahan dana kemudian berharap dapat memenangkan lotre/undian jutaan dolar. Mari kita perhatikan hal ini; bila seseorang ingin memperoleh lebih banyak daripada yang ia berikan, itu menunjukkan bahwa di dalam batinnya hanya ada keserakahan. Kita tidak dapat menyetop orang-orang untuk berharap, seseorang dapat berharap apa saja yang diingininya, tetapi hasilnya akan tergantung pada kondisi-kondisi, pada berapa banyak kebajikan (kusala) yang telah ia lakukan, dan pada kesempurnaan Dhamma (parami). Jadi, kebersihan suatu harapan atau keinginan tergantung pada banyak faktor.

Kita dapat berharap, misalnya "semoga saya bahagia, sejahtera, damai, tenang di dalam Dhamma; semoga semua makhluk hidup bahagia dengan perbuatan-perbuatan baik saya, dan semoga kita semua terhindar dari bahaya, dengan kekuatan jasa (punnya) dan kebajikan (kusala)". Adalah cukup pantas untuk meminta Sang Triratna (Ratanattaya: Sang Buddha atau Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna; Doktrin-doktrin Dhamma; dan Sangha atau para bhikkhu) untuk menjadi pelindung kita, dan kemudian kita akan tentram dan bahagia, dan bebas dari kecemasan, tidak seperti orang yang masih kuatir apakah jasa/pahala tersebut akan benar-benar datang.

Kita tidak seharusnya kuatir ketika memberi, tetapi cobalah untuk bermurah hati kepada orang-orang, sahabat-sahabat, dan tetangga-tetangga kita sebanyak mungkin. Jika anda belum pernah memberikan sesuatu atau membagi apapun kepada saudara-saudara anda, maka cobalah usahakan dan lakukan hal itu. Anda akan menemukan bahwa betapa hal itu akan memberikan kebahagiaan, baik kepada mereka maupun kepada anda. Berilah dengan hati yang tulus, dengan tindakan yang baik dan ucapan yang baik, dan hanya mengeluarkan kata-kata yang baik dan menyenangkan sesuai Dhamma. Jika anda ingin memberikan nasehat kepada seseorang, dasarkanlah itu pada Dhamma, pikirkanlah dengan seksama, dan berkatalah dengan penuh cinta-kasih. Cobalah untuk memberi sesering mungkin yang dapat anda lakukan, maka hati yang baik akan semakin berkembang, dan pada saat yang bersamaan akan penuh kesadaran, tenang, dan selalu damai.

Sekarang saya ingin berbicara tentang cinta-kasih (metta). Apabila kita memiliki cinta kasih di dalam hati, dan ia ditunjang oleh kebajikan (kusala), kita dapat memelihara sikap moral (sila) kita dengan baik, khususnya sila ke-4 dan ke-5. Sila ke-4 adalah menghindari diri dari ucapan salah. Kita tidak akan pernah berkata bohong atau menipu orang lain apabila kita memiliki kebajikan di hati; kita bahkan tidak ingin berkata kasar, bergosip, atau berkata kosong/nonsens.

Orang yang penuh cinta-kasih dan baik (metta-dhamma), ia selalu tenang dan penuh kesadaran (sati). Orang yang baik dan bermanfaat (kusala-metta) tidak ingin minum alkohol atau obat bius, dia mengetahui dirinya sendiri dengan batinnya sendiri. Minum alkohol di depan anak-anak adalah sangat buruk. Itu tidak baik, karena itu memberikan contoh yang buruk kepada anak-anak, membuang-buang uang, dan menghancurkan keluarga. Bila suami adalah seorang peminum/pemabuk, apakah anda pikir istrinya akan bahagia? Jika istri adalah seorang peminum alkohol, dapatkah suaminya gembira? Tak seorang pun yang akan bahagia. Tetapi bila kita memiliki kebajikan di hati, kita tak akan menyukai minum alkohol atau obat bius, kita tidak ingin melukai atau menyakiti orang lain. Dunia akan dapat hidup dengan damai dan bahagia dan tanpa peperangan.

Apabila seseorang agresif terhadap kita, kita tidak seharusnya berbuat yang sama. Berusaha dan hindarilah orang semacam itu. Tetapi jika hal itu tidak dapat dilakukan, cobalah untuk diam saja. Jika kita benar-benar tenang dan damai serta penuh cinta-kasih, semangat dan kekuatan kita akhirnya dapat membuat dia tenang pula. Jika tidak, itu adalah urusan dia. Cukuplah membuat diri kita sendiri dingin dan tenang. Bahkan jika agresinya hebat dan mengancam akan melukai kita, kita seharusnya tetap mengembangkan cinta-kasih kita. Tak peduli bagaimana terlukanya kita, kita tidak seharusnya balas melakukan kekerasan terhadapnya, tetapi harus tetap menjaga prilaku moral (sila) yang murni. Jika kita menjadi agresif, kita tidak dapat memancarkan cinta-kasih kita. Kemudian, bila hanya satu orang berkata kasar kepada kita, atau mengolok-olok kita, atau bahkan hanya melihat kepada kita dengan tatapan yang tidak bersahabat, kita sudah merasa tidak enak atau marah. Cinta-kasih kita tidak cukup kuat, dan kita selalu sensitif, egois, dan lemah dalam keseimbangan (upekkha). Diperlukan waktu yang lama untuk dapat memotong akar-akar kejahatan dan melepaskannya seluruhnya, sehingga tiada hal apapun yang dapat mengganggu batin kita. Apabila kita mampu, kita akan tenang dan damai, seperti udara atau kekosongan, seperti seorang Arahat (seseorang yang telah mencapai Nibbana).

Saya akan mengakhiri sampai di sini khotbah pada hari ini. Semoga anda semua maju di dalam Dhamma.

[ Dikutip dari Buku Harta Yang Mulia ]

   
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »

Welcome To BEC!

Buddhist Education Centre Founder
  • Contact us

  • Who are we?

  • Visi Misi

Please contact us at the following.

  • Address: HR. Muhammad 179 Blok D8-9, Surabaya, Indonesia
  • Tel: (+62 31) 734 5135

BEC Merupakan Pusat Informasi, Latihan & Pengadaan media ajaran Buddha melalui media Cetak (Buku & Majalah) & Elektronik (CD/VCD/DVD dan kerjasama siaran TV dan Radio).Aktif dalam bidang Pendidikan,Sosial,Seni dan Budaya berlatar belakang ajaran Buddha

Tujuan berdirinya Buddhist Education Centre Surabaya: bersama-sama membangun masyarakat berbudi luhur, santun, penuh welas asih.

Find Us on Facebook